Blogger Widgets Animated  Sparkly Love Heart

Sunday, August 14, 2016

SEMUA KARENA CINTA

Posted by Unknown at 9:47 PM 0 comments
Terharu dan salut 😢
Kisah Nyata...
Sang Miliader, Merawat Sendiri Istri Selama 25 Tahun
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang tokoh di balik kemajuan industri reksadana di Indonesia sekarang ini, juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini. Ia tergolong miliader.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan, pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tulisan ini, bukan hendak menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Tetapi, kesehariannya yang luar biasa.
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja, bahkan sudah mendekati malam. Tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Cobaan menerpa, tatkala istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah, bahkan terasa tidak bertulang. Lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia gendong istrinya ke depan TV, agar tidak merasa kesepian. Istrinya sudah tidak dapat bicara, selalu hanya terlihat senyum.
Untunglah kantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya untuk makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan mata, namun bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan.
Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun.
Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah. Pada suatu hari…
Saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya – karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing – Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu: Semua anaknya dapat berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, si anak sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak. Bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu,” kata si sulung dengan air mata berlinang.
“Sudah ke empat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak? Dengan berkorban seperti ini, kami tidak tega melihat bapak, kami berjanji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian,” tambah si melanjutkan permohonannya.
”Anak-anakku… Jika perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi. Tetapi ketahuilah, dengan adanya ibu kalian di sampingku, itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian." Sejenak kerongkongannya tersekat.
"Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta, tidak satu pun dapat dihargai dengan apa pun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?
Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang? Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.
Meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno. Mereka juga menyaksikan butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, yang dengan pilu menatap mata suami yang sangat dicintainya.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta di Jakarta untuk menjadi narasumber. Host mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa? Di saat itulah meledak tangis Pak Suyatno, bersama tamu yang hadir di studio yang kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.
Pak Suyatno bercerita: “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinan tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian, semua itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, yang sewaktu sehat dia dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya, bukan dengan mata. Dia memberi saya empat anak yang lucu-lucu.
Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama, itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintai dia apa adanya. Jika dia sehat pun, saya belum tentu mau mencari penggantinya, apalagi dia sakit,” katanya sembari berurai air mata.
Setiap malam saya bersujud dan menangis. Saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas saja. Saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. Cinta saya kepada istri saya, sepenuhnya saya serahkan kepada Allah
Baca Selanjutnya... »»  

Friday, October 23, 2015

Tega

Posted by Unknown at 5:04 AM 0 comments
Namaku Luna. Aku selalu Galau. Kenapa? Lihat saja, orang yang aku cintai tidak mencintaiku. Aku hanya bisa diam membisu ketika bersamanya dan pacarnya. Lebih tepatnya, aku hanya sahabatnya yang berguna untuk kehidupannya namun tidak lebih. Namanya Raka. Aku sangat sayang sekali sama dia. Tapi, apakah dia sayang sama aku? mungkin, jawabannya tidak!
“hai” sapaku kepada Raka.
“hai juga” Raka membalas sapaanku sangat singkat.
“Gea ke mana?” tanya Raka. Uhhh. Gea lagi. Gea lagi! emangnya gak ada nama selain Gea?
Aku berjalan menuju rumah di seberang sana. Rumahku berdekatan dengan sekolah. Ku lihat Raka sedang berbincang dengan Gea di seberang sana.
“uhh. Mereka selalu lengket kayak perangko!” ujarku lemah.
Ku lihat sosok di sana seperti melambai. Sangat jelas sekali ketika dia memanggil namaku, “Lun, sini.” ujar Gea.
Aku risi sendiri. Aku, ke sana? palingan nanti jadi nyamuk! Ketika sempat menolak, akhirnya aku menghampiri mereka.
Tega sekali dia! Lihat mata aku berkaca-kaca! kamu gak ngerti banget perasaan aku hah! puas kamu bikin aku nangis? aku tahu, aku gak secantik kamu! aku hanyalah seorang gadis SMA yang berkepang dua dan memakai kacamata, memang aku cupu! tapi, apakah seorang gadis cupu selamanya sendiri? cupu juga manusia kan? Aku menyesal menghampiri Raka dan Gea. Kenapa? mereka mengajakku untuk menghampiri mereka hanya untuk menunjukkan betapa mesrahnya mereka. Itu sangat menyakitkan. Sudahlah Gea! Aku gak suka lihat itu.

“tumben gak sama Raka?” kata Danu, dia teman yang paling menyebalkan dalam hidupku.
“apaan sih! please aku cape nanganin orang gila kayak kamu” kataku langsung meninggalkan dia.
Aku benci dia. Benci datang dari hatiku. Bukan karena perbuatannya, tapi karena keegoisanku setiap melihat dia. Huhh! gak suka sama dia.
Gea datang, semakin dekat dan akhirnya ada di hadapanku. Aku hanya bisa terbujur kaku ketika memberi sepucuk surat dari Raka kepadaku
“hey! kau sahabat sejatiku! datang yah! pleaseee.. ke hari jadi aku dan Gea di taman nanti sore!”
“surat tak berguna” kataku sambil menyobek surat itu.
Aku tak perlu menghadiri pesta kecil itu. Toh, aku ada dan tidak ada pun tak akan berguna di mata Raka dan Gea. Sudah cukup! aku ingin pergi dari kehidupannya! aku ingin melupakan sosok Raka yang tega membiarkan aku gila sendiri olehnya.
Pagi-pagi sekali aku ke rumah Raka. Jam 7, pagi sekali kan? ini hari minggu. Kotak pos di rumah Raka kosong. Ku taruh surat untuknya di kotak mungil itu. Sungguh! ini sangat menyakitkan.
“hey! kamu Luna?” tanyanya sambil meraih piyama miliknya di atas kursi.
“apa ini?” kata Raka. Dia lansung membaca surat milik Luna.
“jika ada seseorang yang menyuruhku untuk memilih antara kamu dan bulan, aku lebih memilih kamu. Kenapa? bulan hanya bisa menemaniku pada malam tiba. Sementara kau? selalu menemani hariku setiap hari. Kau bagaikan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku. Namun, setelah kehadirannya, kau berubah! aku hanya bisa tersenyum melihat itu semua.
Kau tahu? aku akan pindah sekolah ke sekolah lain. Aku sudah muak dengan tingkah kalian setiap hari yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan andai burung bisa bicara, akan ku beri tahu dia bahwa tidak ada sesuatu yang lebih berarti selain mencintai dan menyayangimu.”
Cerpen Karangan: Naila Asya Muhfi
Blog: nailaasyamuhfi.blogspot.com
Facebook : Naila Asya Muhfi II
Nama: Naila Asya Muhfi
Twitter: @nailasyamuhfi
Ig: @nailaamuhfii
Blog: Nailaasyamuhfi.blogspot..com
Baca Selanjutnya... »»  

Thursday, May 22, 2014

Kisah Nyata Wanita Cantik dan Lelaki Buruk Rupa

Posted by Unknown at 8:54 PM 0 comments


Ketika menelusuri sebuah jalan di kota Bashrah, Al Atabi melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang bersenda gurau dengan seorang lelaki tua buruk rupa. Setiap kali wanita itu berbisik, laki-laki tersebut pun tertawa.

Al Atabi yang penasaran kemudian memberanikan diri bertanya kepada wanita itu. “Siapa laki-laki tersebut?”

“Dia suamiku”, jawab wanita itu.

“Kamu ini cantik dan menawan, bagaimana kamu dapat bersabar dengan suami yang jelek seperti itu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan” Al Atabi meneruskan pertanyannya.
“Barangkali karena mendapatkan wanita sepertiku, maka ia bersyukur. Dan aku mendapatkan suami seperti dirinya, maka aku bersabar. Bukankah orang yang sabar dan syukur adalah termasuk penghuni surga? Tidak pantaskah aku bersyukur kepada Allah atas karunia ini?”

Al Atabi kemudian meninggalkan wanita itu disertai kekaguman. Ulama Al Azhar, Dr Mustafa Murad, juga kagum dengan wanita itu sehingga memasukkan kisah ini dalam bukunya Qashashush Shaalihiin. Kedua ulama tersebut tidaklah kagum kepada wanita itu karena kecantikannya. Mereka kagum karena agamanya.

Dan benarlah pesan Rasulullah: “Wanita itu dinikahi karena empat hal; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wanita yang baik agamanya, ketika ia kaya, ia tidak sombong. Ia justru dermawan, suka berinfaq dan mendukung perjuangan dakwah suami dengan hartanya.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia memiliki kedudukan tinggi dan nasab yang mulia, ia tidak menghina orang lain. Ia justru menjadi wanita yang mulia dan menggunakan kedudukannya untuk membela kebenaran.

Wanita yang baik agamanya, ketika ia cantik, ia tidak membuat suaminya resah. Ia justru menjadi penghibur hati dan penyejuk mata bagi suaminya tercinta.

Wallahu a’lam bish shawab.
Baca Selanjutnya... »»  

Thursday, May 2, 2013

L.D.R (Long Distance Relationship)

Posted by Unknown at 8:06 PM 0 comments
Kisah ini bermula di sebuah tempat dimana terbentang luas hamparan hijau nan indah, Star Hill. Malam itu tepatnya Saturday night pukul 20.30 WIB, aku yang seorang gadis periang begitu girangnya berada di Star Hill ditemani oleh seorang cowok. Ya, dia adalah teman bermain sekaligus teman belajar, teman curhat, dan bukan teman biasa.
Entah apa yang ada di benakku saat itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya. Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati.
Seminggu sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.
“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar dari mulut cowok tampan itu.
Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah dia katakan padaku.
“Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian, aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak,
“Sebenarnya aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin perasaanku ke kamu sekarang”.
Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan terbata-bata seperti pasien yang kritis,
“Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa… Aku gak bisa nolak kamu!”.
Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.
Keesokan harinya, aku mengawali Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua, yang lain ngontrak.
Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya, dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah, aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea (naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan semangat.
Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.
Suatu hari, trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya kebenaran akan kepergiannya ke Korea.
“Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.
Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku lulus ujian dari sekian puluh ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang lebih tiga tahun lamanya”.
“Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah keberangkatan dia.
***
September kelabu di Jl. Pengantin Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi.
Setelah muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.
“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang tiada henti.
Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaaghhh!!! (lambai-lambai tangan)”.
Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.
***
Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya Jakarta-Purwokerto?”.
Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.
Suatu hari via video call on facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”, kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita ketemu”.
Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis, jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu goresanku mengenai seorang dia.
Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah
Sosok kuat tapi lemah…
Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain?
Setiap kali aku ingin melepasnya
Dia selalu di posisi benteng pertahanan
Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya?
Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri
Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah
Dicintainya lebih dari kekuatan apapun
Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa…
Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Baca Selanjutnya... »»  

Hubungan Tanpa Status

Posted by Unknown at 8:01 PM 0 comments


Assalamualaikum.. Hello bray! Eh bray, kalo ada pilihan “hubungan tanpa status apa status tanpa cinta?” kamu milih apa? Bingung ya? Samaaaaa -_____- wkwk. Tapi kita akan coba mengulas tentang pertanyaan ini, yah... walaupun sama-sama bingung sih. And start from here. 
Emm.. pilih yang mana ya hubungan tanpa status apa status tanpa cinta? Bingung nih.. padahal intinya sama-sama gak enak sih. Kalo hubungan tanpa status... kita ada hubungan yang deket sama seseorang, udah dikasih lampu hijau sih tapi gak ditembak-tembak. Udah panggil ayang-ayangan, sms dari pagi sampe malem, jejaring sosial gak pernah off, BBM’an lanjut terus.. tapi gak ada status jelas. Lain lagi sama status tanpa cinta. Punya status berpacaran... punya pacar tapi ngerasa sendiri, gak ada perhatian, apalagi.. yah... panggilan mesra. Contoh kayak gini : Cowok sms cewek nya “Beb, nanti pulang sekolah aku jemput yah?” Si cewek bales “Y” Cowok rada’ kesel “Kamu kok gitu sih?” Cewek bales lagi “Gpp kok” Duh.. enggak banget deh pokoknya. 
Tapi menurutku pribadi sih lebih baik SINGLE HAPPY ya! Itu pilihan yang sangat tepat. Kenapa saya bilang single happy? Padahal yang ngetrend sekarang itu panggilan “Mblo” / Jomblo. Menurut saya, single itu masih muda dan pasti dapet jodoh atau pasangan. Sedangkan jomblo, itu udah rada’ tua sih dan gak laku-laku. Dan kata-kata ini terinspirasi dari sahabat saya @Mitaaaak follow ya! Wkwk 
Kembali ke persoalan, kan lebih enak Single daripada hubungan tanpa status atau status tanpa cinta. Sama-sama gak enaknya. Kalau kita milih hubungan tanpa status, saling cinta sih tapi gak ada status. Iya kalo bertahan lama, kalo ada someone better than you yang sama-sama suka sama pasangan HTS mu gimana? Iya kalo someone itu penakut, kalo langsung ngutarain perasaannya dan langsung diterima sama pasangan HTS mu gimana? Kan nyesel.. Sedangkan kalo milih status tanpa cinta, wah ini malah pilihan yang salah banget. Buat apa ngutarain suka, cinta, sayang, dll kalo cuma buat status. Buat apa pacaran tapi masih ngerasa sendiri? 
Tuh kan, mending Single aja.. kan gak ribet. Udah happy, gak ada yang bikin galau *eh kecuali tugas hehe, gak ribet, gak ngabisin pulsa, dan masih banyak keuntungan yang kita dapat dari Single tersebut. So, masih bingung milih yang mana? 
Baca Selanjutnya... »»  

PHP (pemberi harapan palsu)

Posted by Unknown at 8:00 PM 0 comments

PHP.. Yah.. begitulah anak-anak remaja menyebutnya. Banyak anak-anak muda yang ngucapin begitu saat dia lagi disakitin sama pasangan nya atau ada janji yang gak ditepatin. Contohnya gini nih “PHP ya.. makasih ya :’)” ato kayak gini “Dafuq! Aku di php :-(“ Wuh 4L4Y banget.. padahal yang nulis juga kayak gitu ._. wkwk
Tapi sebenernya PHP itu karena kita sendiri, kok bisa? Itu karena kita kepedean! Mau tau apa bedanya? Check it OUT ! :-)
PHP, Pemberian Harapan Palsu biasanya dikarenakan orang yang kita sukai itu hanya nganggep kita sebagai seorang temen ato gak hanya sahabatan. Padahal setiap hari itu gak pernah tinggal hp, sms an dari pagi sampe malam. Bahkan bahasa smsan nya itu mesraaaaa banget.. Duh -___-
Kepedean, hal ini juga yang kebanyakan menyebabkan PHP. Kebanyakan, sifat kepedean ini dimiliki oleh seorang cowok. Contoh dalam jejaring sosial kayak gini nih (Cewek : “Gak tau kenapa aku udah mulai suka sama kamu :-) | Cowok : dalam hati “Yes.. akhirnya kamu bisa suka sama aku :-)” ) Duh.. padahal cewek itu ngepost gitu bukan buat si cowok itu, tapi cowok yang lain -______-
Tuh kan, kalo yang baca ini langsung mikir berarti dia udah ngerasa kalo dia itu sebenernya bukan di PHP tapi dia nya yang kepedean :-P Nah.. lebih baik kalo ada perasaan sama seseorang itu jangan dipendem ataupun dinyatain langsung. Karena kalo kita nyatain langsung, iya kalo diterima kalo gak? Kan jadi galau.. wkwk lebih baik kita liat sikon/in fact/kenyataan nya dulu. Kalo emang udah yakin dan sama-sama suka, baru dah nyatain. Tapi kalo udah pacaran, jangan ada niatan jelek ya.. Apalagi kalo ada niatan maksiat -___- astaghfirullah.. Pacaran buat penyemangat itu boleh tapi kalo pacaran buat yang aneh-aneh.. Duh enggak banget deh -___-
Yah, sekian artikel dari saya. Mudah-mudahan banyak manfaat yang kita ambil dari tulisan diatas. Walaupun.. situasi saya dalam saat ini yah begitulah wkwk So? Jangan lupa untuk artikel selanjutnya ya! :-)
Baca Selanjutnya... »»  

LDR story

Posted by Unknown at 7:58 PM 0 comments

Dalam suatu cerita nyata, diceritakan ada cowok yang bernama Fahri (*nama disamarkan). Fahri adalah seorang cowok beragama islam, ganteng, dan pinter. Kehidupannya sederhana. Suatu hari, saat libur tahun baru Fahri dan keluarganya berlibur ke Makassar untuk menemui Om nya. Saat sudah sampai di rumah Om nya di Makassar, Fahri pun tiduran untuk istirahat sejenak karena sudah melewati perjalanan yang sangat jauh dari Surabaya ke Makassar. Enak-enak tiduran, Fahri dibangunkan oleh adik sepupunya yang bernama Silvi. Silvi membangunkan Fahri karena ingin diantarkan ke rumah temennya. Fahri pun bangun dan membasuh muka. Tidak lama kemudian, Fahri sudah siap untuk mengantar adiknya ke rumah temennya.
Sesampai rumah temennya, Silvi langsung turun dari motor Fahri dan mengetuk pintu rumah temennya. Tidak lama kemudian pintu terbuka, “Hei Silvi..” sontak cewek itu menyapa adik sepupu Fahri. “Hei Nana..” silvi pun menjawab. Fahri yang melihat cewek itu langsung kaget. Fahri kagum dengan kecantikan Nana, temennya Silvi. “Eh Vi.. Itu siapa?” tanya Nana. “Oh... itu kakakku yang dari Surabaya, kenapa?” silvi menjawab, “Emm.. gapapa kok. Suruh masuk aja, gapapa kok.” Jawab Nana. Dengan cepat Silvi mengajak Fahri masuk ke rumah Nana. “Kak, mau ikut masuk gak? Diajak temen ku loh ini..” Silvi mengajak Fahri. Dan Fahri pun menjawab “Emm.. gimana ya?” silvi menjawab “Udah lah kak, masuk aja yuk.” Lalu Fahri menjawab “Yaudah deh..” (*sambil gemeteran).
Tidak beberapa lama, Fahri dan Silvi pun masuk ke rumah Nana. Saat di dalam rumah Nana, Silvi dan Nana asik utak-atik laptop mereka masing-masing. Tentunya asik dengan jejaring sosial mereka. Tapi berbeda dengan Fahri, pandangan Fahri tidak pernah lepas dari wajah cantik Nana. Terkadang Nana dan Fahri juga saling pandang, tapi akhirnya Silvi ditelpon oleh kedua orang tuanya untuk segera pulang. Fahri pun menghela nafas, dia jadi agak cemberut karena tidak bisa melihat wajah Nana lagi. Sebelum Silvi dan Fahri pulang, Nana berbicara dengan Silvi sebentar. Fahri pun kebingungan, apa yang sebenernya Silvi dan Nana bicarakan.
Selesai berbicara, Silvi pun langsung mengajak Fahri pulang. Di tengah perjalanan Fahri bertanya kepada Silvi “Eh, tadi kamu bicara apa sama temenmu?”silvi pun menjawab “Wkwk ada deh, nanti kalo udah sampe rumah aku kasi’ tau kok” Fahri langsung menjawab “Oh.. yaudah deh. Awas kalo gak dikasi tau!” Sesampai di rumah, Fahri pun langsung menanyakan apa yang Silvi dan Nana bicarakan tadi. Fahri bilang “Hayoo, sekarang kan udah sampe rumah.. Kasi’ tau tadi bicara apa aja sama Nana?” Silvi pun menjawab dengan agak tertawa  “Wkwk.. kepo banget sih. Haha yaudah deh, tadi itu Nana bilang kalo besok itu kita mau diajak ke Mall sama dia.” Dalam hati Fahri bilang “Yes.. akhirnya besok bisa ketemu sama Nana lagi” Silvi heran karena kakaknya tiba-tiba senyum-senyum sendiri “Kak? kok senyum-senyum sendiri?” Fahri yang hatinya sedang berbunga-bunga tiba-tiba kaget dan langsung menjawab pertanyaan adiknya “Eh.. gapapa kok dek. Lagi seneng aja wkwk” Silvi pun ingin tahu “Ha? Seneng? Seneng kenapa kak?” Fahri langsung pergi sambil berkata “Wkwk gapapa kok dek”. Silvi pun kebingungan dan langsung pergi ke kamar ya.
Malam hari, ketika Fahri sedang dengerin musik tiba-tiba ada BBM masuk. Ternyata ada yang nge-add pin nya Fahri. Ketika Fahri membuka BBM nya, dia kaget dan seneng sekali karena yang nge-add itu Nana temennya Silvi. Malam itu Fahri dan Nana udah mulai akrab. Mereka asik banget BBMan sampe larut malem. Keesokan harinya, Fahri semangat sekali. Jam menunjukkan pukul 05.00 Fahri sudah selesei mandi dan ingin jogging sebentar.
Selesei jogging, Fahri pun dipanggil Silvi. Silvi bilang agar kakaknya Fahri segera siap-siap ke rumah Nana untuk Hang-Out. Fahri pun langsung membasuh muka lalu ganti baju. Silvi dan Fahri pun udah siap ke rumah Nana. Di tengah perjalanan, Fahri terus membayangkan wajah cantik Nana. Sesampai nya di rumah Nana, Silvi pun langsung turun dari motor kakaknya dan langsung mengetuk pintu rumah Nana. Dengan cepat Nana langsung membukakan pintu, dan saat itu juga Fahri kaget banget gara-gara melihat Nana yang sudah rapi dan cantik. Dan tidak lama kemudian, mobil Nana pun sudah siap untuk mengantarkan Nana, Silvi, dan Fahri Hang-Out. “Masukin aja motornya..” kata Nana, Fahri pun menjawab dengan agak malu “Gapapa nih?”. Sambil tersenyum Nana menjawab “Ya gapapa lah..”. Mendapat jawaban itu, Fahri pun langsung memasukkan motornya ke garasi mobil Nana.
“Udah” kata Fahri, “Udah di kunci stir?” jawab Nana. “Hehe belom” jawab Fahri yang langsung mengunci stir motornya. “Yuk.. berangkat” kata Nana sambil tersenyum ke arah Fahri. Fahri pun membalasnya dengan senyum juga sambil berjalan ke arah mobil. Sesudah masuk ke mobil, Fahri pun tertawa kecil gara-gara Nana suka pusing kalo di dalam mobil. Yah.. akhirnya suasana di dalam mobil pun sepi, karena Nana dan Silvi tertidur di dalam mobil. Meskipun begitu Fahri tetep seneng, Fahri bisa melihat wajah cantik Nana.
Setelah udah deket tujuan yaitu Mall, Fahri pun membangunkan Silvi. Dan Silvi pun membangunkan Nana. Suasana mobil pun sudah tidak sepi lagi, Nana dan Silvi asik bergurau. Sekali-sekali Nana bergurau dengan Fahri. Itu membuat hati Fahri seneng banget, apalagi dapet senyum dari wajah cantik Nana. Tidak lama kemudian, sampai lah mereka di Mall. Mereka asik sekali menghabiskan waktu di Mall, belanja, makan, foto-foto, dll. Tapi di dalam hati Fahri, Fahri sedih banget. Karena keesokan harinya Fahri dan keluarganya harus pulang ke Surabaya. “Fahri? Kok cemberut?” tanya Nana, Fahri pun menjawab “Gapapa kok Na..” “Beneran gapapa?” tanya Nana lagi. “Iya.. aku gapapa kok” jawab Fahri, “Senyum dong kalo gapapa” kata Nana sambil tersenyum. “Wkwk iyadeh iya..” jawab Fahri sambil tersenyum ke Nana. Nana pun masih bingung kenapa tadi Fahri cemberut, dan Nana memutuskan buat nanya ke Silvi barangkali Silvi tau. “Eh Sil..” kata Nana, “Apa Naa?” jawab Silvi.
“Fahri kenapa sih? Kok keliatannya cemberut daritadi?” tanya Nana. “Gak tau tuh kakakku, galau mungkin” jawab Silvi. “Emang di Surabaya, kakakmu udah punya pacar?” tanya Nana lagi. “Enggak sih, eh aku tau kenapa kakakku cemberut” jawab Silvi mengagetkan. “Cerita dong..” kata Nana, “Besok itu dia mau balik ke Surabaya” jawab Silvi. Seketika wajah Nana langsung berubah yang tadinya ceria, sekarang agak sedih ketika mendengar jawaban dari Silvi. “Cepet banget?” tanya Nana dengan nada lirih. “Kamu kenapa Na?” tanya Silvi, “Emm.. gapapa kok, eh udah malem nih pulang yuk” ajak Nana. “Yuk” jawab Fahri dan Silvi. Sesudah sampe rumah, Fahri langsung prepare buat besok. Saat Fahri lagi ngerapiin baju, tiba-tiba ada BBM. Ternyata dari Nana, isi nya “Udah ya jangan sedih :-) kita kan masih bisa komunikasi lewat BBM, twitter, sama sms :-) aku pengen kamu senyum..” melihat BBM dari Nana, Fahri kerasa kehibur banget.
Keesokan harinya, Silvi dan keluarganya di Makassar mengantar Fahri beserta keluarganya pulang ke Surabaya. Di dalam perjalanan, Fahri galau banget. Gara-garanya, dia BBM ke Nana gak dibales-bales, disms pun juga gak dibales, dia mau telpon dia tapi malu banget. Akhirnya dalam perjalanan ke Bandara, Fahri galau banget dan gak tau ingin berbuat apa. Sesampai di Bandara, Fahri melihat ke luar Bandara dan sedikit bergumam “Andai aja ada Nana disini..” sambil melihat BB nya. Dia mengharapkan BBM nya ataupun mention nya dibales sama Nana, tapi ya.. enggak dibales sampe sekarang.
Saat Fahri sudah mau naik ke pesawat, ada BBM masuk ke BB nya Fahri. Dan ternyata itu dari Nana. Isinya “Kamu lihat belakang gih :-)” mendapat BBM seperti itu, Fahri langsung lihat belakang dan kegalauan yang tadi dirasakan oleh Fahri berubah jadi haru dan seneng. Ternyata Nana dan keluarganya datang dengan membawa cindramata untuk Fahri bawa pulang ke Surabaya. “Jangan sedih lagi ya..” kata Nana dengan memberi suatu barang untuk Fahri sambil tersenyum. “Makasih ya Na.. udah buat aku senyum” jawab Fahri sambil tersenyum. “Kamu ati-ati disana ya.. kalo liburan lagi jangan lupa kesini” kata Nana. “Iya makasih.. aku gak akan lupa kok” jawab Fahri meyakinkan Nana.
“Sip, yaudah.. byee Fahri, kalo udah sampe kabarin aku yaa” dengan melambaikan tangan ke arah Fahri. “Bye Nana..” balas Fahri. Akhirnya Fahri pun pulang dengan hati yang seneng, udah dapet cindramata dari Nana dapet senyum nya lagi. Sesampai di Surabaya, Fahri pun langsung BBM ke Nana. Dan mulai saat itu, Fahri terus berhubungan dengan Nana. Yah.. walaupun jauh/beda kota. Tapi Fahri yakin hubungan itu bisa dijaga walaupun jauh dengan positive thinking. Sekian cerita yang bisa saya post, semoga anda bisa menikmati dan tidak bosen-bosen mengunjungi blog ini. Eh, artikel ini ada sambungan nya sama artikel yang Long Distance Relationship. So, tunggu artikel berikutnya ya! :-)
Baca Selanjutnya... »»