Blogger Widgets Animated  Sparkly Love Heart

Tuesday, February 19, 2013

TRUE LOVE

Posted by Unknown at 6:54 PM 0 comments
Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku.
***

Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.

Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.

Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.

Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.

Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.

Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.

Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.

Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.

Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.

DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman.
***

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"

Apakah dia menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, aku mengucapkan
"yes. I will."
***

Percaya atau tidak, itulah faktanya. True love akan datang. Sejauh dan sesulit apapun, Cinta Sejati akan mencari jalan lagi dan lagi untuk kita temukan. :)

Baca Selanjutnya... »»  

KISAH MANIS YANG TERKENANG

Posted by Unknown at 6:48 PM 0 comments
Namaku Syla. Aku anak tunggal di keluargaku. Ayah dan Ibu sangat sayang kepadaku. Jika aku menginginkan sesuatu, pasti terpenuhi. Ayah dan Ibu selalu mengontrol apa saja kegiatan yang aku lakukan di luar rumah, seperti les piano, berlatih tennis, dan kegiatan lainnya. Kadang aku kesepian di rumah, kalau ayah dan ibu belum pulang dari kantornya. “Seperti ini tah rasanya tak punya saudara kandung, tak bisa curhat, bercanda, nonton film dan karaokean bareng?” gumamku.

Menjelang Pagi
Pagi pun datang, alarm sudah berbunyi. Aku membuka mata perlahan-lahan, mengambil alarm yang ada di meja, samping tempat tidur, dan aku langsung menghentikannya. Walau mataku belum sepenuhnya terbuka, tapi aku segera bergegas ke kamar mandi. Kuambil handuk yang berwarna kuning dari dinding samping kamar mandi, lalu kurasakan dinginnya air yang mengalir di tubuhku, membangunkan jiwa ragaku. Makanya aku langsung membuka mata selebar mungkin. Setelah mandi dan Shalat Shubuh, aku langsung bersiap memakai pakaian seragam sekolahku. Sambil memasang ikat pinggang, kubuka tirai jendela kamarku yang berbalut warna biru muda itu. Kubuka jendela kamar, dan ku hirup udara segar di pagi hari, benar-benar menyejukkan dan menyehatkan. Aku kembali ke cermin, berdandan, memakai kerudung warna putih, dan bros pink yang aku jepitkan pada dada kiriku. Tak lupa aku memakai jam tangan dan kacamata berbalut warna cokelat yang tergeletak di meja ungu samping tempat tidurku.

Aku segera mengambil tas dan memakai sepatu. Aku keluar dari kamar, buru-buru menuruni anak tangga. Di bawah, ibuku yang memakai baju kantor dan berkerudung itu sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Kulihat ayah dan ibu sedang sarapan bersama. “Selamat Pagi!” sapaku pada Ayah dan Ibu. “Pagi anak Ibu yang cantik,” jawab Ibu sambil tersenyum manis. “Hari ini kami pulang agak sore ya, Nak!” kata Ayah. “Iya cantik, maaf ya.. kamu gapapa kan sendirian di rumah?” sambung Ibu. “Tidak apa-apa kok Bu! hehe” jawabku. Lalu aku duduk di kursi, mengambil roti dan memilih selai cokelat untuk memanjakan mulutku di pagi ini. Sesudah sarapan, aku berpamitan kepada Ayah dan Ibu. “Ibu, Ayah, aku berangkat dulu ya.. Assalamu’alaikum.” sambil mencium tangan Ayah dan Ibu. “Wa’alaikumsalam warahmatullah, hati hati ya, Nak” jawab Ayah dan Ibu serentak. Karena jalan ke sekolahku dan kantor mereka tidak searah, aku berangkat sendiri ke sekolah, tidak diantar Ayah & Ibu. Tapi aku pernah diantar oleh ayah, saat ayah sedang libur. Aku membuka pintu, lalu keluar, kudorong gerbang berwarna cokelat emas yang ada di halaman rumahku. Aku segera mencari taksi untuk mempermudah transportasi ke sekolah.

Pulang Sekolah
Aku pulang sekolah menjelang Maghrib. Aku turun dari mobil temanku, Salsha. “Pak. Aji & Salsha, makasih udah nganterin Syla pulang ke rumah” ucapku. “sama –sama Syla, kami langsung pulang ya, Assalamu’alaikum!” jawab Pak. Aji ayah Salsha. “Hati hati Pak.. Wa’alaikum salam warahmatullah” Aku langsung membuka gerbang, dan memasuki rumah. Kunaiki satu persatu anak tangga menuju kamar. Kubuka pintu kamar dan bruuk !! Aku langsung telentang di tempat tidurku. Sekitar 5 menit, aku lepas kerudungku dan bros pink nya. Selanjutnya aku pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, Shalat Maghrib dan mengaji tubuhku terasa segar sekali. Tapi kok tiba-tiba aku ingin mendengarkan radio, tidak tahu kenapa. Aku mendengarkan Radio di HP-ku. Aku tak peduli itu stasiun apa, yang jelas aku ingin sekali mendengarkan radio. Baru ku buka, si penyiar radio di stasiun tersebut memutarkan sebuah lagu, itu lagu slow, enak didengerin deh pokoknya. Setelah selesai diputar, si penyiar itu berkata “Oke, buat para Greysonators dimanapun berada. Tadi itu lagu yang tak asing lagi buat kalian, yaitu dari GREYSON CHANCE - Home Is In Your Eyes atau biasa disebut HIIYE”. Waaw, artis itu suaranya keren sekali, aku baru tau itu artis. Waaa, good good good. Ya Allah indah sekali deh pokoknya. Aku jadi pengen liat profil artis itu. Pasti ganteng dan keren, huahaha. Besok hari Minggu, hari libur sekolah. Mungkin besok adalah saat yang tepat buat cari tahu artis itu. “Yang penting sekarang aku Shalat Isya’ dulu dan tidur, baru deh besok melanjutkan pencarian” kataku lirih. Aku membersihkan badan di kamar mandi. Setelah membersihkan badan di kamar mandi aku bergegas untuk tidur. Suara gerbang terdengar diselingi suara mobil. “Pasti itu ayah dan ibu” ucapku. Huh, aku menarik selimutku dan mematikan lampu kamar. #It’s time to sleep

Pagi Hari Sekitar Jam 8
Akhirnya waktu yang ditunggu tunggu. Aww, kucari profil lengkap juga fotonya. Aku senyum-senyum sendiri ketika melihat foto Greyson Chance. Memang benar dugaanku, dia ganteng dan keren. Dia penyanyi dari Amerika Serikat, dan hebatnya lagi dia bisa berbahasa Indonesia ya walaupun belum selancar orang Indonesia {ya iyalah}. Dia beragama Kristen, memang sih umumnya artis luar itu beragama non Islam. Ku unduh semua foto dan lagunya ke laptop. Hm, mungkin sekarang aku udah jadi GREYSONATOR.

Beberapa Minggu Kemudian
Hari ini hari Kamis, tanggal merah yang artinya sekolah libur. Hampir seminggu sekali aku menulis pengalamanku tentang Greyson di jejaring sosial blog. Setiap orang di negara manapun bisa melihat catatan yang aku tulis di blog, karena aku ingin berbagi pengalaman dengan every people. Hari ini, aku menulis catatan di blog. Setelah aku lihat pemberitahuan, ada seseorang yang membaca blog aku. Dia mengomentari “Waw, it’s a amazing. I agree with you”. Aku sengaja setiap mencatat di blog menggunakan dua bahasa, yaitu Bhs. Indonesia dan Inggris. Jadi memudahkan siapapun untuk membacanya. Aku berfikir, pasti itu orang luar yang baca blog aku. Eh, ternyata benar. Tapi, dikomentar dia, tidak tercantum nama pengirim. Jadi aku balas “Thanks, someone. BTW what’s your name?”. 3 menit kemudian dia juga membalas “You’re welcome Syla. My name? Mm, Greyson Chance”. Hah, gimana ya? tuh orang ngaku-ngaku aja. Ga berpendidikan, mana mungkin Greyson baca blog aku. “Hey you, really? But, I can’t beleive.” balasku. Tapi, kalo memang benar?? Aneh, pasti ini Cuma rekayasa dia aja. Hm, dia balas “I really, I’m Greyson Michael Chance !! You need evidence?? I can Syla, wait me”. Jiaa, dia pengin aku percaya sama omongannya. Dia berani sekali untuk membuktikan yang sebenarnya. “Ok someone, I’m waiting” jawabku lagi.

Tak lama kemudian, ternyata dia ngirim semacam video ke aku. Dan itu ......., memang Greyson Chance yang lagi mengatakan sesuatu ke aku. Aku merasa bersalah sama dia. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Lalu dia menyambung percakapan “You can beleive?”. Aku menjawab “I can, I’m sorry Grey. I feel guilty”. Kayaknya Greyson marah sama aku deh, huhuhu. Dia Cuma balas “Ok, no problem. Bye”. Dia memutus pembicaraan begitu saja. Okelah tidak apa-apa. Ini pengalaman yang tak terlupakan bagi aku. Walau terlihat sekilas.
-- THE END --

Baca Selanjutnya... »»  

AKU?? GADIS PALING BERUNTUNG!

Posted by Unknown at 6:45 PM 0 comments
Aku, Kasya Adelia. Nama yang tidak umum? Memang! Biarlah, itu kreasi orangtuaku. Terlahir dengan wajah innocent, manis, cantik, dan polos. Plus badan mungil dan ramping yang sukses membuat teman-temanku sirik. Aku termasuk jajaran murid pintar di kelas lho. Hanya saja, aku memiliki sifat pelupa, PD dahsyat, dan bengal. Love life? Zero. Zero! Aku hanya berharap, ada seorang prince –yang tidak harus charming– datang kepadaku dengan ketulusan yang tidak dibuat-buat!

Lagi-lagi aku kena marah guru. Padahal, aku hanya tidak mengerjakan PR. Yah, memang sih sudah yang kedua kali. Eh, mungkin yang ketiga kali. Pokonya tidak mengerjakan PR deh. Guru itu –Pak Dudung– memarahiku tanpa ampun. Di depan kelas lagi! Damn. Mau ditaruh dimana muka manisku ini? Semua teman-temanku hanya bisa tersenyum, berusaha menahan tawa. Tanpa ada yang berusaha memberikan pembelaan untukku. Huh, teman macam apa mereka? Aku hanya bisa memasang tampang innocent plus polos plus memelas ketika mendengar omelan Pak Dudung yang sepeti kereta berlokomotif tidak terhingga. Aku merutuki sifat pelupaku. Mayday mayday..

Entah mungkin Pak Dudung sedang happy, entah tersihir wajah innocentku. Tapi yang pasti, beliau tidak jadi menghubungi orangtuaku. Aku bersorak dalam hati. Beliau hanya menyuruhku berdiri diluar kelas. Yeah! Tandanya, aku bisa kabur ke perpustakaan. Sifat bengalku memang susah dilawan. Aku mana tahan harus berdiri panas-panasan di luar kelas? Segera aku melangkahkan kaki ke perpustakaan. Tempat paling nyaman di seantero sekolah. Tempat aku bisa merefresh pikiranku saat ada masalah yang menumpuk. Setiap jalinan kisah yang terdapat dalam sebuah buku, selalu sukses membuatku lupa diri dan terhanyut bersama tokoh utama tersebut.

Terpaan angin AC yang dingin segera menyambutku. Ah, sudah lama aku tidak kesini. Kegiatanku di Osis lumayan menyita sedikit waktuku. Yah, walaupun lama dalam kamusku adalah 2 hari. Ibu Rini –penjaga perpustakaan– menyapaku dengan ramah. Tanpa menanyakan alasanku yang berada di perpus saat jam pelajaran. Fiuh, big applause for her! Aku segera membalas sapaannya dengan ramah, dan berlari menuju kubikel favoritku setelah sebelumnya menyambar asal sebuah buku dari rak. Kubikel favoritku ini, terletak di paling ujung dan paling pojok. Mungkin itu sebabnya tidak ada murid lain yang menggunakan kubikel ini selain aku. Seram katanya. Padahal, menurutku kubikel ini paling oke! Disini, aku bisa leluasa membaca buku tanpa ada gangguan dari orang yang hilir mudik. Tenang pokoknya.

Oh ya, kubikelku ini juga paling banyak coretannya. Maklum, aku tidak tahan untuk tidak mencoret-coret barang. Bahkan mejaku juga penuh dengan coretan. Dan untuk hal yang satu ini, belum pernah ada guru yang memarahiku. Sebenarnya sih karena belum ketahuan, hehe. Kembali ke coretan, aku amat-sangat-sering menulis isi kepalaku di kubikel ini. Rasanya ada yang kurang gitu kalau belum menulis. Dan dimulailah tulisanku untuk hari ini.

Plis deh Pak! Jangan salahin saya dong. Emang saya bisa milih jadi pelupa apa? Bawaan lahir tao paak. Bete bete. Kayanya hari ini bakalan kelabu. Huhu.. T-T ada yang nyemangatin dong someone.. ck..
Aku tertawa sendiri melihat tulisanku itu! Sedikitpun tidak mirip dengan tulisan asliku. Sepertinya kemampuanku mengubah bentuk tulisan semakin meningkat! Aku pandangi tulisan-tulisanku yang lain. Hiyaa.. Kok sebagian galau gitu sih? Huahaha.. Aku terbahak-bahak dalam hati. Sekali lagi, aku melayangkan pandanganku. Tunggu. Ada yang aneh. Tulisan lain. Tercetak jelas di samping setiap tulisanku. Mengomentari setiap tulisanku! Menyemangati setiap tulisanku! Aku baca perlahan-lahan tulisan si misterius itu.

Semangat Sya! Kamu pasti bisa melewati hari ini dengan senyuman J
Selalu lihat sisi positifnya Sya! Kasya pasti bisa!
Hey, Kasya Adelia itu terlahir kuat! Dia gak akan putus asa, kan?
Sayang kalau wajah innocentmu tertutup ekspresi amarah. Tertawa dan tersenyum dong :D
Aku peduli, dan akan selalu mendungmu.. :)

Aku terheran-heran sendiri. Begitu banyak tulisan dari orang yang aku sendiri tidak tahu siapa. Lagipula, bagaimana dia tahu namaku? Jangan-jangan.. Aku dimata-matai! Terburu-buru aku berdiri dan mengedarkan pandanganku ke sepenjuru perpustakaan. Nihil. Tidak ada siapa-siapa. Yah, walaupun saat membacanya aku merasa ada yang melumer di dalam hatiku. Karena, dia adalah orang pertama -yang sepertinya- peduli padaku. Aku menghela nafas panjang. Segera aku menulis lagi.

Haloo.. Ini siapa yaa? Kok tau aku? Hayo ngakuuu… Jangan bikin orang penasaran dong, dosa tau. Eh, tapi big thanks for you ya.
Besok, aku harus segera kembali ke perpustakaan! Aku paling tidak tahan dengan yang namanya penasaran! Awas saja kalau dia sampai tidak membalas. Akan aku cari sampai ke penjuru sekolah sekalipun.
“Sya, lima menit lagi bel tuh,” suara ibu perpustakaan mengingatkanku.
Oh! Aku harus segera kembali ke depan pintu kelas. Kalau tidak, hiiy.. Kupingku akan semakin panas mendengar omelan Pak Dudung. Aku segera berlari keluar perpustakaan. Tidak lupa mengucapkan terimakasih –dengan berlari juga– kepada ibu perpustakaan. Dan beliau hanya bisa geleng-geleng kepala melihat salah satu murid langganannya.

Pak Dudung memang galak, Sya. Hehe.. Sabar yaa. Oh ya. Anggap saja aku Guardian Angelmu. Yang akan selalu mendukung, dan ada untukmu.Oke?
Keesokan harinya, aku kembali ke perpustakaan. Dan benar saja, orang itu membalas! Aku melotot membaca tulisannya. Guardian Angel?! Apaan tuh! Seenaknya bikin aku penasaran. Tapi lagi-lagi, aku merasa ada yang lumer di hatiku. Duh, masa aku menyukai seseorang yang bahkan aku saja tidak tahu? Dengan gemas aku menulis lagi.Angel? Ga nyata doong, hii… Ngaku dong, plis banget. Jangan main-main gini dong. Pengen ngeliat aku marah kali ya?

Oke, aku ini memang orang yang susah buat jatuh suka (well, dalam hal ini aku menghindari kata ‘cinta’). Buktinya, selama 16 tahun hidup aku belum pernah tuh naksir cowok. Yah, kecuali penyanyi favoritku –Nick Jonas. Suaranya… Wajahnya… Oke, back to the topic. Kenapa ya? Tiap kali aku baca tulisan-tulisannya, aku merasa ada yang melumer di hatiku. Aku jadi hangat luar dalam. Duh, what’s wrong with my heart? Tiap baca tulisannya, aku bisa merasakan kepedulian dan ketulusannya.

Enak aja, aku nyata kok. Manusia, real! Dan aku BENER-BENER ga ada niat MAIN-MAIN. Aku serius, Sya.Kamu boleh marah kok. Just wait and see.. Keep spirit yaa.

Lama-kelamaan, kegiatan yang kusebut “Coret-Coret-Bikin-Kubikel-Kotor” yang kusingkat “CCBKK” berlangsung rutin setiap hari. Dan anehnya, aku gak pernah sekalipun ketemuan sama orang itu. Ibu perpus gak pernah mau ngasih tau siapa orang selain aku yang make kubikel itu. Dan lagi, kalau ada orang lain yang iseng ngebaca tulisan itu, pasti bingung sendiri. Lha wong isinya macem-macem. Ada kata semangat, debat kusir, galau dan teman-temannya, sampai tentang pelajaran! Bisa dibayangin dong gimana kotornya itu kubikel? Dan tanpa aku sadari, CCBKK udah berlangsung selama lebih dari 3 minggu.

Seperti biasa, aku sedang berjalan menuju perpustakaan. Tapi, rute kelas-perpustakaan yang kutempuh sedang tidak biasa. Aku harus memutar jalan melewati ruang guru. Pak Dudung tidak sengaja membawa buku paketku yang dipinjam olehnya. Dasar guru, bukannya mengembalikan langsung. Huh.

Saat aku sampai di depan pintu ruang guru, aku bersiap membukanya. Tapi tiba-tiba, pintu itu terbuka sendiri! Kaget? Pastinya! Jangan-jangan… Hantuuu! Husssh. Segera kutepis pikiran konyolku itu. Ternyata, ada seseorang yang membukanya. Aku hanya melihat wajahnya sekilas, selain dia yang langsung memalingkan wajahnya, dia juga membawa setumpuk buku perpustakaan dan beberapa lembar kertas yang hampir menutupi wajahnya. Wajahnya terlihat kaget. Mungkin akan kecantikanku ini, hehehe. Tapi yang jelas, selembar kertas terbang dari genggamannya saat dia berjalan menjauh. Dan kertas itu jatuh tepat didepan kakiku. Penasaran, aku memungutnya. Ternyata kertas ulangan. Dan, wow! Nilai yang sempurna. Amri Affandi, pasti orang yang pintar. Saat aku melihat tulisan jawabannya, aku terperangah. Jantungku langsung berdebar tak keruan. Hatiku terasa panas. Tulisan ini.. aku bukan sekadar mengetahuinya. Aku mengenalnya!

Aku langsung berlari mengejarnya. Sia-sia aku berteriak namanya. Sayang, di kertas tersebut tidak dicantumkan kelasnya. Dia tidak ada. Heran, lari kemana sih? Cepat sekali. Aku memutuskan untuk menyimpan kertas ulangan tersebut dan pergi ke perpustakaan. Aku harus merefresh pikiranku!
Untuk kesekian kalinya, terpaan dingin AC kembali menyambutku. Ibu perpus entah mengapa tersenyum penuh arti kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan kikuk. Kali ini, aku memilih buku dengan seksama. Memilah buku mana yang akan membawaku terhanyut dengan cepat dalam buku itu.
‘City of Bones’ tampaknya pilihan yang cocok. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kubikel favoritku. Otakku benar-benar butuh penyegaran! Aku bahkan berniat bolos jam pelajaran. Ini semua gara-gara tulisan Amri Affandi! Tenang Kasya.. Keep calm..

Yah, ternyata ‘keep calm’ku tidak berjalan sukses. Aku terkesiap ketika ada seseorang yang sudah duduk manis di kubikelku. Dalam otakku, sudah terpampang berbagai “naskah” untuk mengusir orang tersebut. Namun, aku lebih terkesiap lagi ketika melihat wajahnya. Wajah itu.. Walaupun hanya sekilas melihatnya, aku langsung mengenalinya! Ya, tidak salah lagi. Dia adalah orang yang kutabrak tadi di depan Ruang Guru! Otakku seakan ditembak sinar pembeku. ‘Brain Freezing Time’-ku kambuh lagi. Lidahku kelu. Dia hanya tersenyum. Senyuman yang entah mengapa membuat diriku menghangat.
“Amri Affandi?”Tanyaku dengan takut. Aku menunduk, takut salah orang!
“Kasya Adelia, kan?” Balasnya disertai senyuman mautnya. Uh, aku meleleh di tempat. Aku kaget. Jantungku berdetak tidak karuan. Inikah orangnya? Orang yang berhasil membuat hatiku berdebar-debar? Aku hanya mengharapkan seorang ‘Prince’. Tapi, mengapa? Mengapa yang datang ‘Prince Charming’? Wajahnya begitu tampan. Dengan mata yang jernih dan alis yang teduh. Dihiasi kacamata tanpa frame yang sukses membuatnya semakin charming. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Dan hal lainnya, sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Aku mengorek ingatanku. Ya, dia adalah peraih peringkat 1 paralel. Dan aku
harus puas berada di peringkat 2 atau 3. Sering disebut, ngg... Ice Prince!
“Ng.. Ak.. Kamu.. Amir –eh! Amri Affandi? Ng.. Yang suka nulis di.. sini?” Tanyaku dengan takut. Aku hanya tidak ingin harapanku kelewat tinggi. Aku takut.
“Fandi aja. Dan aku sudah memutuskan bahwa sekarang saatnya aku jujur sama Kamu. Kamu boleh nganggep aku pengecut atau apa. Aku terima. Jujur, karena aku sendiri juga gak berani untuk ngungkapin secara langsung. Dan sekarang, aku udah mengumpulkan keberanian itu,” jelasnya panjang lebar. Tapi, wait! Keberanian apa? Duh, makin geer nih!
“Kasya Adelia, Aku suka Kamu. Kamu mau berada di sisiku sekarang dan seterusnya?”,Terang Fandi dengan suaranya yang jernih. Matanya begitu penuh keyakinan, ketulusan, dan cinta? Ah, aku tidak yakin ekspresi apa itu. Yang pasti, ekspresi tersebut kontan membuatku panas-dingin, jantungku berlompatan tidak karuan.

Help! Mayday mayday! Aku meerasa linglung. Ini mimpi? Bukan. Pasti bukan, aku harap. Saat matanya memandangku, aku langsung membeku lagi. Dan dalam sekejap melumer kembali saat Fandi menggenggam tanganku. Saat itu juga aku kembali menjadi diriku. Pikiranku melayang ke tulisan-tulisan di kubikel. Dia tulus. Dia baik. Dia peduli. Dan yang terpenting, aku menyukainya. Perlahan, aku mengangguk. Dan setelah anggukan itu, aku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia!
“Ciee.. Ice Prince..” ledekku pada Fandi. Hahaha, ternyata dia tidak menyukai julukan itu. Huu… Siapa suruh jarang senyum? Walaupun jika terhadapku, dia selalu tersenyum sih, hehehe. Aku memperhaikan wajahnya. Gawaat, sepertinya Fandi bete akan ledekanku yang tidak berhenti-berhenti. Hahaha, tapi aku tidak terlalu peduli. Meledeknya adalah hal yang menyenangkan buatku.
“Cieee pasangan jenius..” ledekku lagi. Kali ini, adalah julukan buat kami berdua. Terus terang, aku menyukai julukan itu. Dan lagi-lagi, Fandi tidak menyukainya. Aku baru akan meledek lagi, saat jeweran mengenai kupingku.
“Nona kubikel, aku laporin ke guru ya kalau kamu suka mencoret-coret properti sekolah.” Balas Fandi dengan senyuman mautnya.
Tentu saja aku langsung meleleh dan diam melihat senyumannya. Fandi yang melihatku diam, menyangka aku marah dan langsung mengecup dahiku tanda permintaan maaf.

Sekali lagi, aku merasa menjadi ‘Gadis Paling Beruntung di Dunia’.

Baca Selanjutnya... »»  

WHEN I FALL IN LOVE (Cerpen)

Posted by Unknown at 5:50 PM 0 comments
Teng. .Teng. .Teng. .

Terdengar suara lonceng yang begitu nyaring dari sebuah sekolah di pusat kota. Sesaat kemudian ratusan siswa SD berhamburan keluar dari sekolah. Siang ini pusat kota begitu padat. Tak hanya para siswa yang meramaikan pusat kota, tapi juga orang-orang yang juga sibuk dengan kegiatannya ikut meramaikan pusat kota Bandung. Polisi lalu lintas terlihat kerepotan mengatur jalan dan orang-orang yang ingin menyebrang. Orang-orang Benar-benar sibuk.

Beda halnya dengan Oik. Seorang gadis manis yang juga sering meramaikan pusat kota itu. Sejak tadi Oik hanya duduk diam di bawah pohon. Sudah hampir setengah jam Oik hanya duduk melamun. Tidak!. Oik tidak melamun. Dia ternyata sedang asik memandangi seorang laki-laki di sudut jalan. Seorang laki-laki yang sedang sibuk menggoreskan kuas berisi cat ke dalam kanvas.

"Aishh. .aku suka ekpresinya”
Oik masih terlihat asik menatap laki-laki itu dari jauh sampai tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.

"sampai kapan kau seperti ini ?" tanya Alvin

Oik begitu kaget melihat Alvin, kakaknya sudah berdiri sambil bertolak pinggang.

"aku hanya sedang beristirahat" jawab Oik gugup kemudian mulai berdiri.

"kenapa istirahatnya lama sekali ? Kau tahu kita harus bekerja lagi" Alvin terlihat marah sementara Oik hanya menundukkan kepala.

"cepat pakai lagi perlengkapanmu" ujar Alvin sambil menunjuk kepala boneka yang begitu besar di samping Oik.

Oik langsung menuruti perintah kakaknya sambil mendengus kesal. Oik sempat mengarahkan pandangannya ke arah laki-lakitadi ketika tiba-tiba mata Oik bertabrakan dengan laki-laki itu. Oik begitu kaget ketika menyadari laki-laki itu sedang menatapnya. Buru-buru Oik memakai Kepala boneka badutnya dan segera berlari.

Oik tidak menyadari kepala boneka badutnya terbalik dan membuat Oik hampir jatuh karena tidak bisa melihat. Tapi Oik terus berlari untuk menyembunyikan rasa malunya. Sementara Alvin hanya tertawa sedangkan laki-laki itu terheran-heran dengan sikap Oik.


***

 Malam hari di rumah

"kau benar-benar lucu" Alvin masih terus tertawa sementara Oik tambah cemberut melihat kakaknya yang malah menertawainya.

"jahat" Oik melempar sebuah boneka ke arah Alvin untuk melampiaskan kekesalannya.

Oik dan Alvin adalah kakak beradik yang bekerja sebagai seorang (?) boneka badut. Setiap hari mereka menghibur orang-orang di pusat kota Bandung. Sebenarnya Oik tidak mau bekerja seperti ini. Tapi melihat kondisi keluarganya yang hanya tinggal berdua karena orang tuanya telah lama meninggal Oik terpaksa melakukannya.

"sudahlah jangan terlalu di pikirkan, anggap saja hal itu tidak pernah terjadi" ujar Alvin berusaha menenangkan Oik yang sejak tadi merasa malu karena tingkahnya ketika di pusat kota tadi.

"bagaimana mungkin ? Aku benar-benar malu padanya" timpal Oik sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

"siap suruh kau berlari ? Dia hanya menatapmu,bagaimana kalau dia mengajakmu berkenalan ?"

Oik hanya terdiam.Sepertinya ucapan Alvin ada benarnya. Kejadian tadi sebenarnya karena ulahnya sendiri.

"sudahlah, aku mau tidur, kau tidurlah" ucap Alvin kemudian keluar dari kamar adiknya.

Setelah kepergian Alvin, Oik pun bersiap-siap untuk tidur. Kejadian tadi akan segera terlupa ketika bangun esok pagi. Begitulah harapan Oik.


Pagi hari seperti biasa sebelum bekerja Oik menyiapkan sarapan untuknya dan kakaknya. Oik memang bertugas untuk mengurus rumah, sementara Alvin selain menjadi badut, dia juga bekerja sebagai pelayan pada malam hari.

Tok. .Tok. .Tok. .

Ketukan pintu rumah Oik berhasil menghentikan kegiatan memasak Oik. Dengan terburu-buru Oik berlari membuka pintu.

"tunggu seben. ."

Oik langsung terpaku begitu melihat siapa yang mengetuk pintunya. Laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa hari ini mengganggu pikiran Oik kini berdiri di hadapannya.

"Hai" sapa laki-laki itu sementara Oik masih terdiam tak bergerak.

Sepertinya kesadaran Oik hilang ketika menyadari laki-laki yang biasa dilihat dari jauh kini berada begitu dekat dengannya.

"apa yang kau lakukan ? Jika ada tamu suruh dia masuk" teriak Alvin dari dalam rumah dan berhasil mengembalikan kesadaran Oik.

"maaf" ucap Oik kemudian mempersilahkan laki-lak itu masuk.

Laki-laki itu kemudian masuk sambil Tersenyum. Oik hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya tapi Oik buru-buru
menguasai perasaannya.

"hampir saja" ujar Oik sambil menghembuskan nafasnya.


***


Benar-benar di luar dugaan. Oik akhirnya mengetahui kenapa laki-laki itu bisa datang tiba- tiba ke rumahnya. Laki-laki yang bernama Cakka atau Cakka Nuraga itu ternyata sudah lama mengenal Alvin. Bahkan mereka sering bertemu dan mengobrol. Tapi kenapa ketika di pusat kota mereka seperti tidak saling mengenal ? Oik terus bertanya dalam hati kenapa kakaknya tidak memberi tahunya bahwa mereka saling mengenal.

Cakka dan Alvin terlihat asik mengobrol sambil makan, sementara Oik sama sekali tidak di hiraukan. Sebenarnya Oik belum benar-benar percaya jika Cakka, laki-laki yang sudah mengganggu pikirannya kini berada di depannya bahkan makan bersamanya. Sungguh kebetulan yang menyenangkan.

Tanpa sadar Oik tersenyum sendiri.

"kau tidak apa-apa ?" tanya Cakka begitu melihat Oik tersenyum sendiri.

"ng…tidak"  jawab Oik singkat dan langsung melanjutkan makan.

"oia, bukankah kita belum berkenalan ? Aku Cakka" Cakka mengulurkan tangannya dan Oik agak ragu-ragu membalas uluran tangan itu,

"Oik"

hari ini sepertinya akan jadi hari yang menyenangkan untuk Oik.


***

"kau tunggu disini, aku akan belikan makanan" ucap Alvin kemudian langsung meninggalkan Oik.

Kedatangan Cakka tadi pagi tidak cukup membawa perubahan. Siang ini Oik masih seperti biasa bekerja menjadi boneka badut dan menghibur orang-orang. Sekarang Oik sedang beristirahat di tempat favoritnya di bawah pohon. Tempat paling aman jika Oik ingin memandangi Cakka. Tapi hari ini tidak seperti biasanya. Di sudut jalan itu Cakka tidak terlihat. Lukisan yang biasa di pajang di sisi jalan pun tidak ada.

"kemana dia?" tanya Oik heran.

Padahal Oik kira setelah Cakka datang ke rumah tadi pagi, Cakka akan menemuinya dan mengobrol dengannya.

"mau minum ?"

seorang laki-laki yang ternyata Cakka berhasil mengagetkan Oik yang sedang melamun. Sedikit gugup ketika Cakka menawarkan minuman tapi akhirnya Oik menerimanya.

“terima kasih"

Cakka kemudian duduk di samping Oik dan membuka minumannya. Oik masih terdiam menatap Cakka. Sepertinya Oik masih belum sepenuhnya percaya Cakka kini di sampingnya.

"kau sudah selesai ?" tanya Cakka tiba-tiba.

"apa ?" Oik balik bertanya.

"jika kau sudah selesai, aku ingin mengajakmu jalan-jalan"

Oik hampir tersedak ketika mendengar ucapan Cakka.

"Tak apa-apa, kan?" tanya Cakka cemas sementara Oik hanya menggeleng.

Suasana hening sejenak.

"bagaimana ?"

Oik terdiam sesaat. Bingung dan takut jika Oik pergi dengan Cakka , Alvin akan memarahinya.

"tenang saja aku sudah meminta izin pada kakakmu dan kakakmu mengizinkannya" ujar  Cakka seperti mengerti apa yang dipikirkan Oik. Akhirnya Oik pun menerima ajakan Cakka.


***


Cuaca sangat panas tapi Oik dan Cakka masih tetap berjalan menyusuri kota dengan riang gembira. Tak henti-hentinya Oik tersenyum senang karena bisa berjalan-jalan dengan Cakka, laki-laki pujaannya. Cakka pun terlihat perhatian pada Oik. Cakka terus menggenggam tangan Oik dan berusaha melindunginya.

Cakka dan Oik terus berjalan menyusuri kota sambil sesekali melihat-lihat para pedagang dan dagangannya yang di jajakkan di pinggir jalan. Oik terlihat senang bisa pergi bersama Cakka. Lebih bahagia lagi karena Cakka begitu baik padanya. Seakan semuanya Seperti mimpi. Dulu Oik hanya bisa memandangi Cakka dari jauh kini berada di sampingnya, pergi dengannya. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

"kau senang ?" tanya Cakka sambil memberikan minuman pada Oik.

Tidak terasa Cakka dan Oik berjalan cukup lama. Sekarang sudah hampir malam, mereka berdua kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Oik.

"tentu saja, ini hari yang benar-benar menyenangkan" jawab Oik sambil menerima minuman dari Cakka.

"aku senang sekali bisa berjalan denganmu" lanjut Oik sambil tersenyum malu.

"aku pun begitu" balas Cakka sambil tersenyum juga.

Sesaat Oik terpaku melihat senyuman Cakka. Oik memang paling menyukai Cakka ketika tersenyum.

"apakah kau pikir ini adalan kencan ?" Tanya Cakka dari nada bicaranya, ia keliatan santai

Oik langsung membelalakan matanya terkejut. Kenapa Cakka bisa mengatakan itu ?

"maksudmu ?"

"bukankah seorang laki-laki dan perempuan yang berjalan berdua itu namanya kencan ?"

"tapi itu kan hanya untuk orang yang sedang berpacaran"

"apa kita tidak sedang berpacaran ?"
lagi-lagi pertanyaan Cakka berhasil membuat Oik terdiam dan salah tingkah. Oik tidak menyangka Cakka adalah orang yang tidak suka berbasa basi.

"tentu saja tidak" jawab Oik sambil menundukkan kepalanya.

Oik tidak berani menatap Cakka padahal Oik sangat berharap Cakka mengatakan bahwa dia menyukainya dan mengajaknya berpacaran.

"baiklah. .kita sudah sampai" ujar Cakka.

Oik  mendongakkan kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Sudah di depan rumahnya.

"masuklah" Cakka menyuruh Oik dan Oik langsung menuruti perintah Cakka, setelah sebelumnya Oik mengucapkan terima kasih.

Oik sempat melihat kepergian Cakka dari kamarnya. Oik menghembuskan nafasnya

"dia tidak mengatakan apa-apa"


***


Dan semenjak itu Oik dan Cakka menjadi dekat. Setiap beristirahat Oik sering menemui Cakka dan menemani Cakka melukis. Cakka juga setiap hari sering mengantarkan Oik pulang. Kini mereka menjadi teman dekat.
Hari ini Oik tidak bekerja menjadi badut. Sejak pagi Oik terlihat sibuk di dapur. Oik  berencana untuk memberikan makanan kepada Cakka.

Ketika waktu makan siang Oik bergegas menuju pusat kota untuk menemui Cakka. Begitu sampai diseberang jalan, ketika Oik ingin melambaikan tangannya, seorang gadis tiba-tiba datang menemui Cakka. Gadis  itu langsung memeluk Cakka dan…. Cakka pun membalas pelukan itu. Oik begitu kaget melihat kejadian itu. Hatinya tiba-tiba merasa sakit dan sedetik kemudian pipi Oik sudah berurai (?) air mata. Oik akhirnya mengurungkan niat untuk menemui Cakka dan kembali ke rumah.

Ketika sampai di rumah Oik langsung masuk ke kamarnya. Alvin yang juga baru pulang kaget melihat sikap Oik. Alvin  tampak khawatir dan berulang kali mengetuk pintu kamar Oik, tapi Oik tidak menjawab. Di dalam kamar Oik menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit melihat kejadian tadi dan menyesal kenapa ia tidak pernah berpikir kemungkinan Cakka sudah mempunyai kekasih.

Sampai malam Oik terus mengurung diri di kamar. Alvin  sebagai kakaknya benar-benar khawatir dengan sikap adiknya itu yang tidak mau berbicara apapun padanya.

"apa ini semua karena Cakka?" Alvin bertanya dalam hati dan akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Cakka apa yang terjadi.


***


"aku langsung datang kesini begitu mendengar keadaan Oik" ucap Cakka ketika sampai di rumah Oik dan bertemu Alvin.

Alvin langsung memberitahu Cakka tentang sikap Oik yang sejak tadi mengurung diri di kamar.

"dia bilang ingin menemuimu tapi ketika kembali malah seperti ini" ujar Alvin sementara Cakka hanya mendengarkan sembari mengingat apa yang terjadi tadi pagi sampai siang.

"aku belum bertemu dengan Oik hari ini" jelas Cakka.

Suasana menjadi hening. Cakka dan Alvin mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.

"aku rasa Oik salah paham" ungkap Cakka tiba-tiba.

Alvin terlihat bingung kemudian Cakka menjelaskan tentang kejadian ketika Cakka kedatangan seorang gadis tadi siang.
Cakka berfikir Oik salah paham ketika melihat gadis itu.

"Oik pasti mengira gadis itu adalah kekasihku" ucap Cakka.

"dia hanya temanku, aku harus menjelaskan pada Oik" lanjut Cakka.

Alvin  terdiam sejenak.

"Oik pasti tidak ingin menemuimu sekarang, aku punya ide"




***


Di kamarnya, Oik mulai bangun dari tidurnya. Setelah lelah menangis Oik tertidur cukup lama. Oik mulai keluar kamar untuk mengambil minum. Ketika sampai di ruang tamu, suasana terlihat sepi.

"sepertinya Kak Alvin belum pulang" ujar Oik ketika tiba-tiba pintu rumah terbuka dan masuk seseorang berpakaian badut. Mungkin itu kakaknya.

"kau sudah pulang Kak ?" tanya Oik sambil menghampiri kakaknya sementara Alvin mulai membuka pakaian badutnya kecuali kepala badutnya dan duduk di kursi di ikuti Oik.

"Kak. .aku tidak ingin menemui Cakka lagi" ucap Oik dengan nada sedih.

"aku tadi melihatnya bersama seorang gadis dan aku rasa Cakka menyukainya" lanjut Oik sementara Alvin masih diam mendengarkan.

"apa yang harus aku lakukan Kak ? Aku menyukainya tapi aku tidak tahu apa dia juga menyukaiku ? Apa aku harus melupakannya ?"

Oik terus mencurahkan perasaannya sampai merasa kesal karena Alvin sama sekali tidak menanggapinya. Alvin masih diam dan tidak berniat melepas kepala badutnya.

"Kak kau tidak mendengarku?" tanya Oik kesal dan akhirnya membuka kepala boneka yang di pakai Alvin.

Betapa kagetnya Oik ketika mengetahui orang di balik kepala badut itu. Bukan Alvin, kakaknya! tapi Cakka. Oik langsung lemas begitu menyadari orang yang sejak tadi mendengarkan curahan hatinya adalah Cakka.

"maafkan aku,kakakmu merasa kau tidak ingin menemuiku jadi aku melakukan ini agar bisa bertemu denganmu" ujar Cakka sambil menatap Oik.

Oik masih terlihat syok dengan kejadian ini. Cakka akhirnya mengetahui perasaan Oik juga.

"aku cukup terkejut mendengar pernyataanmu tadi" ujar Cakka lembut

"maafkan aku" balas Oik lirih

"kenapa kau malah meminta maaf"

"karena aku menyukaimu"

Cakka terdiam sesaat.

"ikut denganku" Cakka langsung menarik tangan Oik, dan mengajak Oik pergi.


***

Cakka akhirnya menghentikan mobilnya di suatu rumah yang tidak terlalu besar. Cakka  mengajak Oik masuk ke rumah itu.

"untuk apa kau mengajakku kesini ?" tanya Oik bingung.

Cakka kemudian mengajak Oik ke sebuah kamar yang gelap. Sesaat pikiran Oik mulai di landa ketakutan. Tiba-tiba ruangan menjadi terang dan betapa terkejutnya Oik  ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Lukisan dirinya terpajang cukup banyak membuat Oik hanya bisa membelalakan matanya. Benar-benar tidak menyangka. Sejak kapan Cakka melukis dirinya ?

"aku ingin menunjukkan ini" ujar Cakka yang menunjukan senyuman manisnya

"aku menyukaimu dan ini buktinya"

Oik  langsung menghambur ke pelukan Cakka.

"maaf karena aku telat mengatakannya"

Oik melepaskan pelukannya dan sedetik kemudian bibir mereka menyatu seperti cinta mereka.




THE END
Baca Selanjutnya... »»