Blogger Widgets Animated  Sparkly Love Heart

Thursday, May 2, 2013

L.D.R (Long Distance Relationship)

Posted by Unknown at 8:06 PM 0 comments
Kisah ini bermula di sebuah tempat dimana terbentang luas hamparan hijau nan indah, Star Hill. Malam itu tepatnya Saturday night pukul 20.30 WIB, aku yang seorang gadis periang begitu girangnya berada di Star Hill ditemani oleh seorang cowok. Ya, dia adalah teman bermain sekaligus teman belajar, teman curhat, dan bukan teman biasa.
Entah apa yang ada di benakku saat itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya. Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati.
Seminggu sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.
“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar dari mulut cowok tampan itu.
Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah dia katakan padaku.
“Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian, aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak,
“Sebenarnya aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin perasaanku ke kamu sekarang”.
Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan terbata-bata seperti pasien yang kritis,
“Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa… Aku gak bisa nolak kamu!”.
Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.
Keesokan harinya, aku mengawali Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua, yang lain ngontrak.
Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya, dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah, aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea (naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan semangat.
Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.
Suatu hari, trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya kebenaran akan kepergiannya ke Korea.
“Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.
Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku lulus ujian dari sekian puluh ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang lebih tiga tahun lamanya”.
“Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah keberangkatan dia.
***
September kelabu di Jl. Pengantin Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi.
Setelah muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.
“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang tiada henti.
Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaaghhh!!! (lambai-lambai tangan)”.
Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.
***
Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya Jakarta-Purwokerto?”.
Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.
Suatu hari via video call on facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”, kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita ketemu”.
Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis, jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu goresanku mengenai seorang dia.
Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah
Sosok kuat tapi lemah…
Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain?
Setiap kali aku ingin melepasnya
Dia selalu di posisi benteng pertahanan
Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya?
Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri
Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah
Dicintainya lebih dari kekuatan apapun
Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa…
Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Baca Selanjutnya... »»  

Hubungan Tanpa Status

Posted by Unknown at 8:01 PM 0 comments


Assalamualaikum.. Hello bray! Eh bray, kalo ada pilihan “hubungan tanpa status apa status tanpa cinta?” kamu milih apa? Bingung ya? Samaaaaa -_____- wkwk. Tapi kita akan coba mengulas tentang pertanyaan ini, yah... walaupun sama-sama bingung sih. And start from here. 
Emm.. pilih yang mana ya hubungan tanpa status apa status tanpa cinta? Bingung nih.. padahal intinya sama-sama gak enak sih. Kalo hubungan tanpa status... kita ada hubungan yang deket sama seseorang, udah dikasih lampu hijau sih tapi gak ditembak-tembak. Udah panggil ayang-ayangan, sms dari pagi sampe malem, jejaring sosial gak pernah off, BBM’an lanjut terus.. tapi gak ada status jelas. Lain lagi sama status tanpa cinta. Punya status berpacaran... punya pacar tapi ngerasa sendiri, gak ada perhatian, apalagi.. yah... panggilan mesra. Contoh kayak gini : Cowok sms cewek nya “Beb, nanti pulang sekolah aku jemput yah?” Si cewek bales “Y” Cowok rada’ kesel “Kamu kok gitu sih?” Cewek bales lagi “Gpp kok” Duh.. enggak banget deh pokoknya. 
Tapi menurutku pribadi sih lebih baik SINGLE HAPPY ya! Itu pilihan yang sangat tepat. Kenapa saya bilang single happy? Padahal yang ngetrend sekarang itu panggilan “Mblo” / Jomblo. Menurut saya, single itu masih muda dan pasti dapet jodoh atau pasangan. Sedangkan jomblo, itu udah rada’ tua sih dan gak laku-laku. Dan kata-kata ini terinspirasi dari sahabat saya @Mitaaaak follow ya! Wkwk 
Kembali ke persoalan, kan lebih enak Single daripada hubungan tanpa status atau status tanpa cinta. Sama-sama gak enaknya. Kalau kita milih hubungan tanpa status, saling cinta sih tapi gak ada status. Iya kalo bertahan lama, kalo ada someone better than you yang sama-sama suka sama pasangan HTS mu gimana? Iya kalo someone itu penakut, kalo langsung ngutarain perasaannya dan langsung diterima sama pasangan HTS mu gimana? Kan nyesel.. Sedangkan kalo milih status tanpa cinta, wah ini malah pilihan yang salah banget. Buat apa ngutarain suka, cinta, sayang, dll kalo cuma buat status. Buat apa pacaran tapi masih ngerasa sendiri? 
Tuh kan, mending Single aja.. kan gak ribet. Udah happy, gak ada yang bikin galau *eh kecuali tugas hehe, gak ribet, gak ngabisin pulsa, dan masih banyak keuntungan yang kita dapat dari Single tersebut. So, masih bingung milih yang mana? 
Baca Selanjutnya... »»  

PHP (pemberi harapan palsu)

Posted by Unknown at 8:00 PM 0 comments

PHP.. Yah.. begitulah anak-anak remaja menyebutnya. Banyak anak-anak muda yang ngucapin begitu saat dia lagi disakitin sama pasangan nya atau ada janji yang gak ditepatin. Contohnya gini nih “PHP ya.. makasih ya :’)” ato kayak gini “Dafuq! Aku di php :-(“ Wuh 4L4Y banget.. padahal yang nulis juga kayak gitu ._. wkwk
Tapi sebenernya PHP itu karena kita sendiri, kok bisa? Itu karena kita kepedean! Mau tau apa bedanya? Check it OUT ! :-)
PHP, Pemberian Harapan Palsu biasanya dikarenakan orang yang kita sukai itu hanya nganggep kita sebagai seorang temen ato gak hanya sahabatan. Padahal setiap hari itu gak pernah tinggal hp, sms an dari pagi sampe malam. Bahkan bahasa smsan nya itu mesraaaaa banget.. Duh -___-
Kepedean, hal ini juga yang kebanyakan menyebabkan PHP. Kebanyakan, sifat kepedean ini dimiliki oleh seorang cowok. Contoh dalam jejaring sosial kayak gini nih (Cewek : “Gak tau kenapa aku udah mulai suka sama kamu :-) | Cowok : dalam hati “Yes.. akhirnya kamu bisa suka sama aku :-)” ) Duh.. padahal cewek itu ngepost gitu bukan buat si cowok itu, tapi cowok yang lain -______-
Tuh kan, kalo yang baca ini langsung mikir berarti dia udah ngerasa kalo dia itu sebenernya bukan di PHP tapi dia nya yang kepedean :-P Nah.. lebih baik kalo ada perasaan sama seseorang itu jangan dipendem ataupun dinyatain langsung. Karena kalo kita nyatain langsung, iya kalo diterima kalo gak? Kan jadi galau.. wkwk lebih baik kita liat sikon/in fact/kenyataan nya dulu. Kalo emang udah yakin dan sama-sama suka, baru dah nyatain. Tapi kalo udah pacaran, jangan ada niatan jelek ya.. Apalagi kalo ada niatan maksiat -___- astaghfirullah.. Pacaran buat penyemangat itu boleh tapi kalo pacaran buat yang aneh-aneh.. Duh enggak banget deh -___-
Yah, sekian artikel dari saya. Mudah-mudahan banyak manfaat yang kita ambil dari tulisan diatas. Walaupun.. situasi saya dalam saat ini yah begitulah wkwk So? Jangan lupa untuk artikel selanjutnya ya! :-)
Baca Selanjutnya... »»  

LDR story

Posted by Unknown at 7:58 PM 0 comments

Dalam suatu cerita nyata, diceritakan ada cowok yang bernama Fahri (*nama disamarkan). Fahri adalah seorang cowok beragama islam, ganteng, dan pinter. Kehidupannya sederhana. Suatu hari, saat libur tahun baru Fahri dan keluarganya berlibur ke Makassar untuk menemui Om nya. Saat sudah sampai di rumah Om nya di Makassar, Fahri pun tiduran untuk istirahat sejenak karena sudah melewati perjalanan yang sangat jauh dari Surabaya ke Makassar. Enak-enak tiduran, Fahri dibangunkan oleh adik sepupunya yang bernama Silvi. Silvi membangunkan Fahri karena ingin diantarkan ke rumah temennya. Fahri pun bangun dan membasuh muka. Tidak lama kemudian, Fahri sudah siap untuk mengantar adiknya ke rumah temennya.
Sesampai rumah temennya, Silvi langsung turun dari motor Fahri dan mengetuk pintu rumah temennya. Tidak lama kemudian pintu terbuka, “Hei Silvi..” sontak cewek itu menyapa adik sepupu Fahri. “Hei Nana..” silvi pun menjawab. Fahri yang melihat cewek itu langsung kaget. Fahri kagum dengan kecantikan Nana, temennya Silvi. “Eh Vi.. Itu siapa?” tanya Nana. “Oh... itu kakakku yang dari Surabaya, kenapa?” silvi menjawab, “Emm.. gapapa kok. Suruh masuk aja, gapapa kok.” Jawab Nana. Dengan cepat Silvi mengajak Fahri masuk ke rumah Nana. “Kak, mau ikut masuk gak? Diajak temen ku loh ini..” Silvi mengajak Fahri. Dan Fahri pun menjawab “Emm.. gimana ya?” silvi menjawab “Udah lah kak, masuk aja yuk.” Lalu Fahri menjawab “Yaudah deh..” (*sambil gemeteran).
Tidak beberapa lama, Fahri dan Silvi pun masuk ke rumah Nana. Saat di dalam rumah Nana, Silvi dan Nana asik utak-atik laptop mereka masing-masing. Tentunya asik dengan jejaring sosial mereka. Tapi berbeda dengan Fahri, pandangan Fahri tidak pernah lepas dari wajah cantik Nana. Terkadang Nana dan Fahri juga saling pandang, tapi akhirnya Silvi ditelpon oleh kedua orang tuanya untuk segera pulang. Fahri pun menghela nafas, dia jadi agak cemberut karena tidak bisa melihat wajah Nana lagi. Sebelum Silvi dan Fahri pulang, Nana berbicara dengan Silvi sebentar. Fahri pun kebingungan, apa yang sebenernya Silvi dan Nana bicarakan.
Selesai berbicara, Silvi pun langsung mengajak Fahri pulang. Di tengah perjalanan Fahri bertanya kepada Silvi “Eh, tadi kamu bicara apa sama temenmu?”silvi pun menjawab “Wkwk ada deh, nanti kalo udah sampe rumah aku kasi’ tau kok” Fahri langsung menjawab “Oh.. yaudah deh. Awas kalo gak dikasi tau!” Sesampai di rumah, Fahri pun langsung menanyakan apa yang Silvi dan Nana bicarakan tadi. Fahri bilang “Hayoo, sekarang kan udah sampe rumah.. Kasi’ tau tadi bicara apa aja sama Nana?” Silvi pun menjawab dengan agak tertawa  “Wkwk.. kepo banget sih. Haha yaudah deh, tadi itu Nana bilang kalo besok itu kita mau diajak ke Mall sama dia.” Dalam hati Fahri bilang “Yes.. akhirnya besok bisa ketemu sama Nana lagi” Silvi heran karena kakaknya tiba-tiba senyum-senyum sendiri “Kak? kok senyum-senyum sendiri?” Fahri yang hatinya sedang berbunga-bunga tiba-tiba kaget dan langsung menjawab pertanyaan adiknya “Eh.. gapapa kok dek. Lagi seneng aja wkwk” Silvi pun ingin tahu “Ha? Seneng? Seneng kenapa kak?” Fahri langsung pergi sambil berkata “Wkwk gapapa kok dek”. Silvi pun kebingungan dan langsung pergi ke kamar ya.
Malam hari, ketika Fahri sedang dengerin musik tiba-tiba ada BBM masuk. Ternyata ada yang nge-add pin nya Fahri. Ketika Fahri membuka BBM nya, dia kaget dan seneng sekali karena yang nge-add itu Nana temennya Silvi. Malam itu Fahri dan Nana udah mulai akrab. Mereka asik banget BBMan sampe larut malem. Keesokan harinya, Fahri semangat sekali. Jam menunjukkan pukul 05.00 Fahri sudah selesei mandi dan ingin jogging sebentar.
Selesei jogging, Fahri pun dipanggil Silvi. Silvi bilang agar kakaknya Fahri segera siap-siap ke rumah Nana untuk Hang-Out. Fahri pun langsung membasuh muka lalu ganti baju. Silvi dan Fahri pun udah siap ke rumah Nana. Di tengah perjalanan, Fahri terus membayangkan wajah cantik Nana. Sesampai nya di rumah Nana, Silvi pun langsung turun dari motor kakaknya dan langsung mengetuk pintu rumah Nana. Dengan cepat Nana langsung membukakan pintu, dan saat itu juga Fahri kaget banget gara-gara melihat Nana yang sudah rapi dan cantik. Dan tidak lama kemudian, mobil Nana pun sudah siap untuk mengantarkan Nana, Silvi, dan Fahri Hang-Out. “Masukin aja motornya..” kata Nana, Fahri pun menjawab dengan agak malu “Gapapa nih?”. Sambil tersenyum Nana menjawab “Ya gapapa lah..”. Mendapat jawaban itu, Fahri pun langsung memasukkan motornya ke garasi mobil Nana.
“Udah” kata Fahri, “Udah di kunci stir?” jawab Nana. “Hehe belom” jawab Fahri yang langsung mengunci stir motornya. “Yuk.. berangkat” kata Nana sambil tersenyum ke arah Fahri. Fahri pun membalasnya dengan senyum juga sambil berjalan ke arah mobil. Sesudah masuk ke mobil, Fahri pun tertawa kecil gara-gara Nana suka pusing kalo di dalam mobil. Yah.. akhirnya suasana di dalam mobil pun sepi, karena Nana dan Silvi tertidur di dalam mobil. Meskipun begitu Fahri tetep seneng, Fahri bisa melihat wajah cantik Nana.
Setelah udah deket tujuan yaitu Mall, Fahri pun membangunkan Silvi. Dan Silvi pun membangunkan Nana. Suasana mobil pun sudah tidak sepi lagi, Nana dan Silvi asik bergurau. Sekali-sekali Nana bergurau dengan Fahri. Itu membuat hati Fahri seneng banget, apalagi dapet senyum dari wajah cantik Nana. Tidak lama kemudian, sampai lah mereka di Mall. Mereka asik sekali menghabiskan waktu di Mall, belanja, makan, foto-foto, dll. Tapi di dalam hati Fahri, Fahri sedih banget. Karena keesokan harinya Fahri dan keluarganya harus pulang ke Surabaya. “Fahri? Kok cemberut?” tanya Nana, Fahri pun menjawab “Gapapa kok Na..” “Beneran gapapa?” tanya Nana lagi. “Iya.. aku gapapa kok” jawab Fahri, “Senyum dong kalo gapapa” kata Nana sambil tersenyum. “Wkwk iyadeh iya..” jawab Fahri sambil tersenyum ke Nana. Nana pun masih bingung kenapa tadi Fahri cemberut, dan Nana memutuskan buat nanya ke Silvi barangkali Silvi tau. “Eh Sil..” kata Nana, “Apa Naa?” jawab Silvi.
“Fahri kenapa sih? Kok keliatannya cemberut daritadi?” tanya Nana. “Gak tau tuh kakakku, galau mungkin” jawab Silvi. “Emang di Surabaya, kakakmu udah punya pacar?” tanya Nana lagi. “Enggak sih, eh aku tau kenapa kakakku cemberut” jawab Silvi mengagetkan. “Cerita dong..” kata Nana, “Besok itu dia mau balik ke Surabaya” jawab Silvi. Seketika wajah Nana langsung berubah yang tadinya ceria, sekarang agak sedih ketika mendengar jawaban dari Silvi. “Cepet banget?” tanya Nana dengan nada lirih. “Kamu kenapa Na?” tanya Silvi, “Emm.. gapapa kok, eh udah malem nih pulang yuk” ajak Nana. “Yuk” jawab Fahri dan Silvi. Sesudah sampe rumah, Fahri langsung prepare buat besok. Saat Fahri lagi ngerapiin baju, tiba-tiba ada BBM. Ternyata dari Nana, isi nya “Udah ya jangan sedih :-) kita kan masih bisa komunikasi lewat BBM, twitter, sama sms :-) aku pengen kamu senyum..” melihat BBM dari Nana, Fahri kerasa kehibur banget.
Keesokan harinya, Silvi dan keluarganya di Makassar mengantar Fahri beserta keluarganya pulang ke Surabaya. Di dalam perjalanan, Fahri galau banget. Gara-garanya, dia BBM ke Nana gak dibales-bales, disms pun juga gak dibales, dia mau telpon dia tapi malu banget. Akhirnya dalam perjalanan ke Bandara, Fahri galau banget dan gak tau ingin berbuat apa. Sesampai di Bandara, Fahri melihat ke luar Bandara dan sedikit bergumam “Andai aja ada Nana disini..” sambil melihat BB nya. Dia mengharapkan BBM nya ataupun mention nya dibales sama Nana, tapi ya.. enggak dibales sampe sekarang.
Saat Fahri sudah mau naik ke pesawat, ada BBM masuk ke BB nya Fahri. Dan ternyata itu dari Nana. Isinya “Kamu lihat belakang gih :-)” mendapat BBM seperti itu, Fahri langsung lihat belakang dan kegalauan yang tadi dirasakan oleh Fahri berubah jadi haru dan seneng. Ternyata Nana dan keluarganya datang dengan membawa cindramata untuk Fahri bawa pulang ke Surabaya. “Jangan sedih lagi ya..” kata Nana dengan memberi suatu barang untuk Fahri sambil tersenyum. “Makasih ya Na.. udah buat aku senyum” jawab Fahri sambil tersenyum. “Kamu ati-ati disana ya.. kalo liburan lagi jangan lupa kesini” kata Nana. “Iya makasih.. aku gak akan lupa kok” jawab Fahri meyakinkan Nana.
“Sip, yaudah.. byee Fahri, kalo udah sampe kabarin aku yaa” dengan melambaikan tangan ke arah Fahri. “Bye Nana..” balas Fahri. Akhirnya Fahri pun pulang dengan hati yang seneng, udah dapet cindramata dari Nana dapet senyum nya lagi. Sesampai di Surabaya, Fahri pun langsung BBM ke Nana. Dan mulai saat itu, Fahri terus berhubungan dengan Nana. Yah.. walaupun jauh/beda kota. Tapi Fahri yakin hubungan itu bisa dijaga walaupun jauh dengan positive thinking. Sekian cerita yang bisa saya post, semoga anda bisa menikmati dan tidak bosen-bosen mengunjungi blog ini. Eh, artikel ini ada sambungan nya sama artikel yang Long Distance Relationship. So, tunggu artikel berikutnya ya! :-)
Baca Selanjutnya... »»  

Tuesday, February 19, 2013

TRUE LOVE

Posted by Unknown at 6:54 PM 0 comments
Cinta sejati. Apakah kalian percaya akan itu? Akan "Cinta Sejati" yang konon katanya dimiliki oleh semua orang? Cinta yang katanya sangat indah dan menyenangkan? Mitos cinta sejati yang terus menerus melolong dihatiku.
***

Kupandangi bingkai biru di tepi tempat tidurku. Aku tersenyum menatap benda yang ada didalam bingkai itu.

Bukan sebuah foto ataupun lukisan. Hanya sebuah kertas lusuh. Kertas catatan PKN yang aku robek dari buku miliknya 2 tahun lalu saat perpisahan SMP. Dia sama sekali tidak tahu aku merobek buku catatanya. Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku. Aku hanya satu dari ratusan penggemarnya di sekolah.

Dia bukan artis. Dia adalah siswa tampan dan cerdas di sekolahku. Dia kaya dan pintar dalam bidang olahraga. Sifatnya yang cuek justru menjadi daya tarik bagi para kaum hawa, termasuk aku. Tapi, bisa dibilang, aku tidak terlalu menunjukkan diri bahwa aku menyukainya. Terbukti. Aku tidak pernah menyapa ataupun menegurnya. Aku menyukainya lewat diam.

Bahkan, robekan catatan PKN itu aku ambil diam- diam untuk kenang- kenanganku karena aku tahu dia akan melanjutkan study ke L.A.

Aku kembali tersenyum manis saat melihat robekan catatan itu. Orang bilang, apapun itu, jika memang jodoh, maka dia akan kembali lagi dan lagi. Dan aku percaya dia akan kembali kulihat.

Aku mengeluarkan kertas itu dari bingkainya. Kupeluk- peluk dan kubelai. Ku ajak tertawa dan tersenyum.

Gila. Konyol memang. Setelah puas dengan kegiatanku itu, aku meletakkan kertas itu di atas meja belajarku. Dan...
Syuuuut...
Angin bertiup menerbangkan kertas kenangan itu keluar jendela dan jatuh dipekarangan. Dengan sigap aku keluar rumah dan mengejar kertas itu. Itu adalah satu- satunya milikku yang mampu membuatku mengingatnya.

Saat aku hampir mendapatkanya, angin kembali meniupnya menjauhiku. Argh! Angin ini! Batinku kesal.

Aku kembali mengejar kertas itu. Dan saat aku hampir mendapatkannya kembali...
"Argh!! Sial banget sih?! Malah keinjek lagi!" seruku kesal saat tahu kertas itu di injak seseorang. Orang itu mengambil kertas yang ada di injakannya itu. Aku masih menatap jalanan berdebu dengan kesal.
"Jadi, daritadi kamu ngejar kertas ini ya?" ucap orang itu. Suara bariton yang ku kenal. Ku tengadahkan kepalaku menatap wajah dari si pemilik suara.

DEG!!!
Di... Diakan? Diakan pemilik kertas itu sebenarnya? Vigo. Cowok tampan, keren dan pintar itu... Bagaimana bisa?
"Ma... af. Aku ngerobek kertas itu...."
"gapapa kok Dina. Beneran deh gapapa. Karena, aku juga udah foto kamu diam- diam waktu itu." akunya padaku. Dia... Tau namaku?
"foto?! Diem- diem?"
"Lebih baik, kita nostalgianya ditaman aja deh." ucapnya sambil menarik tanganku ke taman.
***

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Fotoku ada dalam dompet Vigo?
"Aku dulu suka banget sama kamu Dina. Karena, kamu itu satu- satunya cewek yang gak pernah negur aku. Kamu cuek dan aku suka itu." ucapnya sambil tersenyum.
"Dulu, aku berharap bisa kenal dan pacaran sama kamu. Tapi, dekat kamu aja aku udah gemetaran, apalagi ngobrol sama kamu..." ucap Vigo lagi. Lalu dia menatap robekan kertas itu.
"Aku tau kok, kamu ngerobek kertas ini. Cuma aku pura- pura gatau aja. Aku seneng banget waktu kamu robek kertas ini. Karena itu artinya, kamu juga suka sama aku. Iyakan?" ucapnya yang membuatku tersipu malu.
"Ikh... Kok diem aja?" ujarnya sambil mencubit pipiku pelan.
"aku bingung mau ngomong apa..."
"Kamu percaya mitos True Love gak?"
"True Love? Emang ada?" tanyaku.
"mulanya, aku juga gak percaya. Tapi malem ini aku percaya. True Love aku udah aku temuin lagi. Aku suka kamu." ucapnya sambil natap bintang.
"udah jam 12 belom?" tanyanya.
"udah. Udah jam 12 tepat."
"Happy Birthday Dina :). Will you be My True Love?"

Apakah dia menyatakan perasaannya. Tanpa sadar, aku mengucapkan
"yes. I will."
***

Percaya atau tidak, itulah faktanya. True love akan datang. Sejauh dan sesulit apapun, Cinta Sejati akan mencari jalan lagi dan lagi untuk kita temukan. :)

Baca Selanjutnya... »»  

KISAH MANIS YANG TERKENANG

Posted by Unknown at 6:48 PM 0 comments
Namaku Syla. Aku anak tunggal di keluargaku. Ayah dan Ibu sangat sayang kepadaku. Jika aku menginginkan sesuatu, pasti terpenuhi. Ayah dan Ibu selalu mengontrol apa saja kegiatan yang aku lakukan di luar rumah, seperti les piano, berlatih tennis, dan kegiatan lainnya. Kadang aku kesepian di rumah, kalau ayah dan ibu belum pulang dari kantornya. “Seperti ini tah rasanya tak punya saudara kandung, tak bisa curhat, bercanda, nonton film dan karaokean bareng?” gumamku.

Menjelang Pagi
Pagi pun datang, alarm sudah berbunyi. Aku membuka mata perlahan-lahan, mengambil alarm yang ada di meja, samping tempat tidur, dan aku langsung menghentikannya. Walau mataku belum sepenuhnya terbuka, tapi aku segera bergegas ke kamar mandi. Kuambil handuk yang berwarna kuning dari dinding samping kamar mandi, lalu kurasakan dinginnya air yang mengalir di tubuhku, membangunkan jiwa ragaku. Makanya aku langsung membuka mata selebar mungkin. Setelah mandi dan Shalat Shubuh, aku langsung bersiap memakai pakaian seragam sekolahku. Sambil memasang ikat pinggang, kubuka tirai jendela kamarku yang berbalut warna biru muda itu. Kubuka jendela kamar, dan ku hirup udara segar di pagi hari, benar-benar menyejukkan dan menyehatkan. Aku kembali ke cermin, berdandan, memakai kerudung warna putih, dan bros pink yang aku jepitkan pada dada kiriku. Tak lupa aku memakai jam tangan dan kacamata berbalut warna cokelat yang tergeletak di meja ungu samping tempat tidurku.

Aku segera mengambil tas dan memakai sepatu. Aku keluar dari kamar, buru-buru menuruni anak tangga. Di bawah, ibuku yang memakai baju kantor dan berkerudung itu sudah menyiapkan sarapan pagi di meja makan. Kulihat ayah dan ibu sedang sarapan bersama. “Selamat Pagi!” sapaku pada Ayah dan Ibu. “Pagi anak Ibu yang cantik,” jawab Ibu sambil tersenyum manis. “Hari ini kami pulang agak sore ya, Nak!” kata Ayah. “Iya cantik, maaf ya.. kamu gapapa kan sendirian di rumah?” sambung Ibu. “Tidak apa-apa kok Bu! hehe” jawabku. Lalu aku duduk di kursi, mengambil roti dan memilih selai cokelat untuk memanjakan mulutku di pagi ini. Sesudah sarapan, aku berpamitan kepada Ayah dan Ibu. “Ibu, Ayah, aku berangkat dulu ya.. Assalamu’alaikum.” sambil mencium tangan Ayah dan Ibu. “Wa’alaikumsalam warahmatullah, hati hati ya, Nak” jawab Ayah dan Ibu serentak. Karena jalan ke sekolahku dan kantor mereka tidak searah, aku berangkat sendiri ke sekolah, tidak diantar Ayah & Ibu. Tapi aku pernah diantar oleh ayah, saat ayah sedang libur. Aku membuka pintu, lalu keluar, kudorong gerbang berwarna cokelat emas yang ada di halaman rumahku. Aku segera mencari taksi untuk mempermudah transportasi ke sekolah.

Pulang Sekolah
Aku pulang sekolah menjelang Maghrib. Aku turun dari mobil temanku, Salsha. “Pak. Aji & Salsha, makasih udah nganterin Syla pulang ke rumah” ucapku. “sama –sama Syla, kami langsung pulang ya, Assalamu’alaikum!” jawab Pak. Aji ayah Salsha. “Hati hati Pak.. Wa’alaikum salam warahmatullah” Aku langsung membuka gerbang, dan memasuki rumah. Kunaiki satu persatu anak tangga menuju kamar. Kubuka pintu kamar dan bruuk !! Aku langsung telentang di tempat tidurku. Sekitar 5 menit, aku lepas kerudungku dan bros pink nya. Selanjutnya aku pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, Shalat Maghrib dan mengaji tubuhku terasa segar sekali. Tapi kok tiba-tiba aku ingin mendengarkan radio, tidak tahu kenapa. Aku mendengarkan Radio di HP-ku. Aku tak peduli itu stasiun apa, yang jelas aku ingin sekali mendengarkan radio. Baru ku buka, si penyiar radio di stasiun tersebut memutarkan sebuah lagu, itu lagu slow, enak didengerin deh pokoknya. Setelah selesai diputar, si penyiar itu berkata “Oke, buat para Greysonators dimanapun berada. Tadi itu lagu yang tak asing lagi buat kalian, yaitu dari GREYSON CHANCE - Home Is In Your Eyes atau biasa disebut HIIYE”. Waaw, artis itu suaranya keren sekali, aku baru tau itu artis. Waaa, good good good. Ya Allah indah sekali deh pokoknya. Aku jadi pengen liat profil artis itu. Pasti ganteng dan keren, huahaha. Besok hari Minggu, hari libur sekolah. Mungkin besok adalah saat yang tepat buat cari tahu artis itu. “Yang penting sekarang aku Shalat Isya’ dulu dan tidur, baru deh besok melanjutkan pencarian” kataku lirih. Aku membersihkan badan di kamar mandi. Setelah membersihkan badan di kamar mandi aku bergegas untuk tidur. Suara gerbang terdengar diselingi suara mobil. “Pasti itu ayah dan ibu” ucapku. Huh, aku menarik selimutku dan mematikan lampu kamar. #It’s time to sleep

Pagi Hari Sekitar Jam 8
Akhirnya waktu yang ditunggu tunggu. Aww, kucari profil lengkap juga fotonya. Aku senyum-senyum sendiri ketika melihat foto Greyson Chance. Memang benar dugaanku, dia ganteng dan keren. Dia penyanyi dari Amerika Serikat, dan hebatnya lagi dia bisa berbahasa Indonesia ya walaupun belum selancar orang Indonesia {ya iyalah}. Dia beragama Kristen, memang sih umumnya artis luar itu beragama non Islam. Ku unduh semua foto dan lagunya ke laptop. Hm, mungkin sekarang aku udah jadi GREYSONATOR.

Beberapa Minggu Kemudian
Hari ini hari Kamis, tanggal merah yang artinya sekolah libur. Hampir seminggu sekali aku menulis pengalamanku tentang Greyson di jejaring sosial blog. Setiap orang di negara manapun bisa melihat catatan yang aku tulis di blog, karena aku ingin berbagi pengalaman dengan every people. Hari ini, aku menulis catatan di blog. Setelah aku lihat pemberitahuan, ada seseorang yang membaca blog aku. Dia mengomentari “Waw, it’s a amazing. I agree with you”. Aku sengaja setiap mencatat di blog menggunakan dua bahasa, yaitu Bhs. Indonesia dan Inggris. Jadi memudahkan siapapun untuk membacanya. Aku berfikir, pasti itu orang luar yang baca blog aku. Eh, ternyata benar. Tapi, dikomentar dia, tidak tercantum nama pengirim. Jadi aku balas “Thanks, someone. BTW what’s your name?”. 3 menit kemudian dia juga membalas “You’re welcome Syla. My name? Mm, Greyson Chance”. Hah, gimana ya? tuh orang ngaku-ngaku aja. Ga berpendidikan, mana mungkin Greyson baca blog aku. “Hey you, really? But, I can’t beleive.” balasku. Tapi, kalo memang benar?? Aneh, pasti ini Cuma rekayasa dia aja. Hm, dia balas “I really, I’m Greyson Michael Chance !! You need evidence?? I can Syla, wait me”. Jiaa, dia pengin aku percaya sama omongannya. Dia berani sekali untuk membuktikan yang sebenarnya. “Ok someone, I’m waiting” jawabku lagi.

Tak lama kemudian, ternyata dia ngirim semacam video ke aku. Dan itu ......., memang Greyson Chance yang lagi mengatakan sesuatu ke aku. Aku merasa bersalah sama dia. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Lalu dia menyambung percakapan “You can beleive?”. Aku menjawab “I can, I’m sorry Grey. I feel guilty”. Kayaknya Greyson marah sama aku deh, huhuhu. Dia Cuma balas “Ok, no problem. Bye”. Dia memutus pembicaraan begitu saja. Okelah tidak apa-apa. Ini pengalaman yang tak terlupakan bagi aku. Walau terlihat sekilas.
-- THE END --

Baca Selanjutnya... »»  

AKU?? GADIS PALING BERUNTUNG!

Posted by Unknown at 6:45 PM 0 comments
Aku, Kasya Adelia. Nama yang tidak umum? Memang! Biarlah, itu kreasi orangtuaku. Terlahir dengan wajah innocent, manis, cantik, dan polos. Plus badan mungil dan ramping yang sukses membuat teman-temanku sirik. Aku termasuk jajaran murid pintar di kelas lho. Hanya saja, aku memiliki sifat pelupa, PD dahsyat, dan bengal. Love life? Zero. Zero! Aku hanya berharap, ada seorang prince –yang tidak harus charming– datang kepadaku dengan ketulusan yang tidak dibuat-buat!

Lagi-lagi aku kena marah guru. Padahal, aku hanya tidak mengerjakan PR. Yah, memang sih sudah yang kedua kali. Eh, mungkin yang ketiga kali. Pokonya tidak mengerjakan PR deh. Guru itu –Pak Dudung– memarahiku tanpa ampun. Di depan kelas lagi! Damn. Mau ditaruh dimana muka manisku ini? Semua teman-temanku hanya bisa tersenyum, berusaha menahan tawa. Tanpa ada yang berusaha memberikan pembelaan untukku. Huh, teman macam apa mereka? Aku hanya bisa memasang tampang innocent plus polos plus memelas ketika mendengar omelan Pak Dudung yang sepeti kereta berlokomotif tidak terhingga. Aku merutuki sifat pelupaku. Mayday mayday..

Entah mungkin Pak Dudung sedang happy, entah tersihir wajah innocentku. Tapi yang pasti, beliau tidak jadi menghubungi orangtuaku. Aku bersorak dalam hati. Beliau hanya menyuruhku berdiri diluar kelas. Yeah! Tandanya, aku bisa kabur ke perpustakaan. Sifat bengalku memang susah dilawan. Aku mana tahan harus berdiri panas-panasan di luar kelas? Segera aku melangkahkan kaki ke perpustakaan. Tempat paling nyaman di seantero sekolah. Tempat aku bisa merefresh pikiranku saat ada masalah yang menumpuk. Setiap jalinan kisah yang terdapat dalam sebuah buku, selalu sukses membuatku lupa diri dan terhanyut bersama tokoh utama tersebut.

Terpaan angin AC yang dingin segera menyambutku. Ah, sudah lama aku tidak kesini. Kegiatanku di Osis lumayan menyita sedikit waktuku. Yah, walaupun lama dalam kamusku adalah 2 hari. Ibu Rini –penjaga perpustakaan– menyapaku dengan ramah. Tanpa menanyakan alasanku yang berada di perpus saat jam pelajaran. Fiuh, big applause for her! Aku segera membalas sapaannya dengan ramah, dan berlari menuju kubikel favoritku setelah sebelumnya menyambar asal sebuah buku dari rak. Kubikel favoritku ini, terletak di paling ujung dan paling pojok. Mungkin itu sebabnya tidak ada murid lain yang menggunakan kubikel ini selain aku. Seram katanya. Padahal, menurutku kubikel ini paling oke! Disini, aku bisa leluasa membaca buku tanpa ada gangguan dari orang yang hilir mudik. Tenang pokoknya.

Oh ya, kubikelku ini juga paling banyak coretannya. Maklum, aku tidak tahan untuk tidak mencoret-coret barang. Bahkan mejaku juga penuh dengan coretan. Dan untuk hal yang satu ini, belum pernah ada guru yang memarahiku. Sebenarnya sih karena belum ketahuan, hehe. Kembali ke coretan, aku amat-sangat-sering menulis isi kepalaku di kubikel ini. Rasanya ada yang kurang gitu kalau belum menulis. Dan dimulailah tulisanku untuk hari ini.

Plis deh Pak! Jangan salahin saya dong. Emang saya bisa milih jadi pelupa apa? Bawaan lahir tao paak. Bete bete. Kayanya hari ini bakalan kelabu. Huhu.. T-T ada yang nyemangatin dong someone.. ck..
Aku tertawa sendiri melihat tulisanku itu! Sedikitpun tidak mirip dengan tulisan asliku. Sepertinya kemampuanku mengubah bentuk tulisan semakin meningkat! Aku pandangi tulisan-tulisanku yang lain. Hiyaa.. Kok sebagian galau gitu sih? Huahaha.. Aku terbahak-bahak dalam hati. Sekali lagi, aku melayangkan pandanganku. Tunggu. Ada yang aneh. Tulisan lain. Tercetak jelas di samping setiap tulisanku. Mengomentari setiap tulisanku! Menyemangati setiap tulisanku! Aku baca perlahan-lahan tulisan si misterius itu.

Semangat Sya! Kamu pasti bisa melewati hari ini dengan senyuman J
Selalu lihat sisi positifnya Sya! Kasya pasti bisa!
Hey, Kasya Adelia itu terlahir kuat! Dia gak akan putus asa, kan?
Sayang kalau wajah innocentmu tertutup ekspresi amarah. Tertawa dan tersenyum dong :D
Aku peduli, dan akan selalu mendungmu.. :)

Aku terheran-heran sendiri. Begitu banyak tulisan dari orang yang aku sendiri tidak tahu siapa. Lagipula, bagaimana dia tahu namaku? Jangan-jangan.. Aku dimata-matai! Terburu-buru aku berdiri dan mengedarkan pandanganku ke sepenjuru perpustakaan. Nihil. Tidak ada siapa-siapa. Yah, walaupun saat membacanya aku merasa ada yang melumer di dalam hatiku. Karena, dia adalah orang pertama -yang sepertinya- peduli padaku. Aku menghela nafas panjang. Segera aku menulis lagi.

Haloo.. Ini siapa yaa? Kok tau aku? Hayo ngakuuu… Jangan bikin orang penasaran dong, dosa tau. Eh, tapi big thanks for you ya.
Besok, aku harus segera kembali ke perpustakaan! Aku paling tidak tahan dengan yang namanya penasaran! Awas saja kalau dia sampai tidak membalas. Akan aku cari sampai ke penjuru sekolah sekalipun.
“Sya, lima menit lagi bel tuh,” suara ibu perpustakaan mengingatkanku.
Oh! Aku harus segera kembali ke depan pintu kelas. Kalau tidak, hiiy.. Kupingku akan semakin panas mendengar omelan Pak Dudung. Aku segera berlari keluar perpustakaan. Tidak lupa mengucapkan terimakasih –dengan berlari juga– kepada ibu perpustakaan. Dan beliau hanya bisa geleng-geleng kepala melihat salah satu murid langganannya.

Pak Dudung memang galak, Sya. Hehe.. Sabar yaa. Oh ya. Anggap saja aku Guardian Angelmu. Yang akan selalu mendukung, dan ada untukmu.Oke?
Keesokan harinya, aku kembali ke perpustakaan. Dan benar saja, orang itu membalas! Aku melotot membaca tulisannya. Guardian Angel?! Apaan tuh! Seenaknya bikin aku penasaran. Tapi lagi-lagi, aku merasa ada yang lumer di hatiku. Duh, masa aku menyukai seseorang yang bahkan aku saja tidak tahu? Dengan gemas aku menulis lagi.Angel? Ga nyata doong, hii… Ngaku dong, plis banget. Jangan main-main gini dong. Pengen ngeliat aku marah kali ya?

Oke, aku ini memang orang yang susah buat jatuh suka (well, dalam hal ini aku menghindari kata ‘cinta’). Buktinya, selama 16 tahun hidup aku belum pernah tuh naksir cowok. Yah, kecuali penyanyi favoritku –Nick Jonas. Suaranya… Wajahnya… Oke, back to the topic. Kenapa ya? Tiap kali aku baca tulisan-tulisannya, aku merasa ada yang melumer di hatiku. Aku jadi hangat luar dalam. Duh, what’s wrong with my heart? Tiap baca tulisannya, aku bisa merasakan kepedulian dan ketulusannya.

Enak aja, aku nyata kok. Manusia, real! Dan aku BENER-BENER ga ada niat MAIN-MAIN. Aku serius, Sya.Kamu boleh marah kok. Just wait and see.. Keep spirit yaa.

Lama-kelamaan, kegiatan yang kusebut “Coret-Coret-Bikin-Kubikel-Kotor” yang kusingkat “CCBKK” berlangsung rutin setiap hari. Dan anehnya, aku gak pernah sekalipun ketemuan sama orang itu. Ibu perpus gak pernah mau ngasih tau siapa orang selain aku yang make kubikel itu. Dan lagi, kalau ada orang lain yang iseng ngebaca tulisan itu, pasti bingung sendiri. Lha wong isinya macem-macem. Ada kata semangat, debat kusir, galau dan teman-temannya, sampai tentang pelajaran! Bisa dibayangin dong gimana kotornya itu kubikel? Dan tanpa aku sadari, CCBKK udah berlangsung selama lebih dari 3 minggu.

Seperti biasa, aku sedang berjalan menuju perpustakaan. Tapi, rute kelas-perpustakaan yang kutempuh sedang tidak biasa. Aku harus memutar jalan melewati ruang guru. Pak Dudung tidak sengaja membawa buku paketku yang dipinjam olehnya. Dasar guru, bukannya mengembalikan langsung. Huh.

Saat aku sampai di depan pintu ruang guru, aku bersiap membukanya. Tapi tiba-tiba, pintu itu terbuka sendiri! Kaget? Pastinya! Jangan-jangan… Hantuuu! Husssh. Segera kutepis pikiran konyolku itu. Ternyata, ada seseorang yang membukanya. Aku hanya melihat wajahnya sekilas, selain dia yang langsung memalingkan wajahnya, dia juga membawa setumpuk buku perpustakaan dan beberapa lembar kertas yang hampir menutupi wajahnya. Wajahnya terlihat kaget. Mungkin akan kecantikanku ini, hehehe. Tapi yang jelas, selembar kertas terbang dari genggamannya saat dia berjalan menjauh. Dan kertas itu jatuh tepat didepan kakiku. Penasaran, aku memungutnya. Ternyata kertas ulangan. Dan, wow! Nilai yang sempurna. Amri Affandi, pasti orang yang pintar. Saat aku melihat tulisan jawabannya, aku terperangah. Jantungku langsung berdebar tak keruan. Hatiku terasa panas. Tulisan ini.. aku bukan sekadar mengetahuinya. Aku mengenalnya!

Aku langsung berlari mengejarnya. Sia-sia aku berteriak namanya. Sayang, di kertas tersebut tidak dicantumkan kelasnya. Dia tidak ada. Heran, lari kemana sih? Cepat sekali. Aku memutuskan untuk menyimpan kertas ulangan tersebut dan pergi ke perpustakaan. Aku harus merefresh pikiranku!
Untuk kesekian kalinya, terpaan dingin AC kembali menyambutku. Ibu perpus entah mengapa tersenyum penuh arti kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan kikuk. Kali ini, aku memilih buku dengan seksama. Memilah buku mana yang akan membawaku terhanyut dengan cepat dalam buku itu.
‘City of Bones’ tampaknya pilihan yang cocok. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kubikel favoritku. Otakku benar-benar butuh penyegaran! Aku bahkan berniat bolos jam pelajaran. Ini semua gara-gara tulisan Amri Affandi! Tenang Kasya.. Keep calm..

Yah, ternyata ‘keep calm’ku tidak berjalan sukses. Aku terkesiap ketika ada seseorang yang sudah duduk manis di kubikelku. Dalam otakku, sudah terpampang berbagai “naskah” untuk mengusir orang tersebut. Namun, aku lebih terkesiap lagi ketika melihat wajahnya. Wajah itu.. Walaupun hanya sekilas melihatnya, aku langsung mengenalinya! Ya, tidak salah lagi. Dia adalah orang yang kutabrak tadi di depan Ruang Guru! Otakku seakan ditembak sinar pembeku. ‘Brain Freezing Time’-ku kambuh lagi. Lidahku kelu. Dia hanya tersenyum. Senyuman yang entah mengapa membuat diriku menghangat.
“Amri Affandi?”Tanyaku dengan takut. Aku menunduk, takut salah orang!
“Kasya Adelia, kan?” Balasnya disertai senyuman mautnya. Uh, aku meleleh di tempat. Aku kaget. Jantungku berdetak tidak karuan. Inikah orangnya? Orang yang berhasil membuat hatiku berdebar-debar? Aku hanya mengharapkan seorang ‘Prince’. Tapi, mengapa? Mengapa yang datang ‘Prince Charming’? Wajahnya begitu tampan. Dengan mata yang jernih dan alis yang teduh. Dihiasi kacamata tanpa frame yang sukses membuatnya semakin charming. Rambutnya hitam pekat dan lurus. Dan hal lainnya, sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Aku mengorek ingatanku. Ya, dia adalah peraih peringkat 1 paralel. Dan aku
harus puas berada di peringkat 2 atau 3. Sering disebut, ngg... Ice Prince!
“Ng.. Ak.. Kamu.. Amir –eh! Amri Affandi? Ng.. Yang suka nulis di.. sini?” Tanyaku dengan takut. Aku hanya tidak ingin harapanku kelewat tinggi. Aku takut.
“Fandi aja. Dan aku sudah memutuskan bahwa sekarang saatnya aku jujur sama Kamu. Kamu boleh nganggep aku pengecut atau apa. Aku terima. Jujur, karena aku sendiri juga gak berani untuk ngungkapin secara langsung. Dan sekarang, aku udah mengumpulkan keberanian itu,” jelasnya panjang lebar. Tapi, wait! Keberanian apa? Duh, makin geer nih!
“Kasya Adelia, Aku suka Kamu. Kamu mau berada di sisiku sekarang dan seterusnya?”,Terang Fandi dengan suaranya yang jernih. Matanya begitu penuh keyakinan, ketulusan, dan cinta? Ah, aku tidak yakin ekspresi apa itu. Yang pasti, ekspresi tersebut kontan membuatku panas-dingin, jantungku berlompatan tidak karuan.

Help! Mayday mayday! Aku meerasa linglung. Ini mimpi? Bukan. Pasti bukan, aku harap. Saat matanya memandangku, aku langsung membeku lagi. Dan dalam sekejap melumer kembali saat Fandi menggenggam tanganku. Saat itu juga aku kembali menjadi diriku. Pikiranku melayang ke tulisan-tulisan di kubikel. Dia tulus. Dia baik. Dia peduli. Dan yang terpenting, aku menyukainya. Perlahan, aku mengangguk. Dan setelah anggukan itu, aku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia!
“Ciee.. Ice Prince..” ledekku pada Fandi. Hahaha, ternyata dia tidak menyukai julukan itu. Huu… Siapa suruh jarang senyum? Walaupun jika terhadapku, dia selalu tersenyum sih, hehehe. Aku memperhaikan wajahnya. Gawaat, sepertinya Fandi bete akan ledekanku yang tidak berhenti-berhenti. Hahaha, tapi aku tidak terlalu peduli. Meledeknya adalah hal yang menyenangkan buatku.
“Cieee pasangan jenius..” ledekku lagi. Kali ini, adalah julukan buat kami berdua. Terus terang, aku menyukai julukan itu. Dan lagi-lagi, Fandi tidak menyukainya. Aku baru akan meledek lagi, saat jeweran mengenai kupingku.
“Nona kubikel, aku laporin ke guru ya kalau kamu suka mencoret-coret properti sekolah.” Balas Fandi dengan senyuman mautnya.
Tentu saja aku langsung meleleh dan diam melihat senyumannya. Fandi yang melihatku diam, menyangka aku marah dan langsung mengecup dahiku tanda permintaan maaf.

Sekali lagi, aku merasa menjadi ‘Gadis Paling Beruntung di Dunia’.

Baca Selanjutnya... »»  

WHEN I FALL IN LOVE (Cerpen)

Posted by Unknown at 5:50 PM 0 comments
Teng. .Teng. .Teng. .

Terdengar suara lonceng yang begitu nyaring dari sebuah sekolah di pusat kota. Sesaat kemudian ratusan siswa SD berhamburan keluar dari sekolah. Siang ini pusat kota begitu padat. Tak hanya para siswa yang meramaikan pusat kota, tapi juga orang-orang yang juga sibuk dengan kegiatannya ikut meramaikan pusat kota Bandung. Polisi lalu lintas terlihat kerepotan mengatur jalan dan orang-orang yang ingin menyebrang. Orang-orang Benar-benar sibuk.

Beda halnya dengan Oik. Seorang gadis manis yang juga sering meramaikan pusat kota itu. Sejak tadi Oik hanya duduk diam di bawah pohon. Sudah hampir setengah jam Oik hanya duduk melamun. Tidak!. Oik tidak melamun. Dia ternyata sedang asik memandangi seorang laki-laki di sudut jalan. Seorang laki-laki yang sedang sibuk menggoreskan kuas berisi cat ke dalam kanvas.

"Aishh. .aku suka ekpresinya”
Oik masih terlihat asik menatap laki-laki itu dari jauh sampai tidak menyadari seseorang telah berdiri di belakangnya.

"sampai kapan kau seperti ini ?" tanya Alvin

Oik begitu kaget melihat Alvin, kakaknya sudah berdiri sambil bertolak pinggang.

"aku hanya sedang beristirahat" jawab Oik gugup kemudian mulai berdiri.

"kenapa istirahatnya lama sekali ? Kau tahu kita harus bekerja lagi" Alvin terlihat marah sementara Oik hanya menundukkan kepala.

"cepat pakai lagi perlengkapanmu" ujar Alvin sambil menunjuk kepala boneka yang begitu besar di samping Oik.

Oik langsung menuruti perintah kakaknya sambil mendengus kesal. Oik sempat mengarahkan pandangannya ke arah laki-lakitadi ketika tiba-tiba mata Oik bertabrakan dengan laki-laki itu. Oik begitu kaget ketika menyadari laki-laki itu sedang menatapnya. Buru-buru Oik memakai Kepala boneka badutnya dan segera berlari.

Oik tidak menyadari kepala boneka badutnya terbalik dan membuat Oik hampir jatuh karena tidak bisa melihat. Tapi Oik terus berlari untuk menyembunyikan rasa malunya. Sementara Alvin hanya tertawa sedangkan laki-laki itu terheran-heran dengan sikap Oik.


***

 Malam hari di rumah

"kau benar-benar lucu" Alvin masih terus tertawa sementara Oik tambah cemberut melihat kakaknya yang malah menertawainya.

"jahat" Oik melempar sebuah boneka ke arah Alvin untuk melampiaskan kekesalannya.

Oik dan Alvin adalah kakak beradik yang bekerja sebagai seorang (?) boneka badut. Setiap hari mereka menghibur orang-orang di pusat kota Bandung. Sebenarnya Oik tidak mau bekerja seperti ini. Tapi melihat kondisi keluarganya yang hanya tinggal berdua karena orang tuanya telah lama meninggal Oik terpaksa melakukannya.

"sudahlah jangan terlalu di pikirkan, anggap saja hal itu tidak pernah terjadi" ujar Alvin berusaha menenangkan Oik yang sejak tadi merasa malu karena tingkahnya ketika di pusat kota tadi.

"bagaimana mungkin ? Aku benar-benar malu padanya" timpal Oik sambil membenamkan wajahnya ke bantal.

"siap suruh kau berlari ? Dia hanya menatapmu,bagaimana kalau dia mengajakmu berkenalan ?"

Oik hanya terdiam.Sepertinya ucapan Alvin ada benarnya. Kejadian tadi sebenarnya karena ulahnya sendiri.

"sudahlah, aku mau tidur, kau tidurlah" ucap Alvin kemudian keluar dari kamar adiknya.

Setelah kepergian Alvin, Oik pun bersiap-siap untuk tidur. Kejadian tadi akan segera terlupa ketika bangun esok pagi. Begitulah harapan Oik.


Pagi hari seperti biasa sebelum bekerja Oik menyiapkan sarapan untuknya dan kakaknya. Oik memang bertugas untuk mengurus rumah, sementara Alvin selain menjadi badut, dia juga bekerja sebagai pelayan pada malam hari.

Tok. .Tok. .Tok. .

Ketukan pintu rumah Oik berhasil menghentikan kegiatan memasak Oik. Dengan terburu-buru Oik berlari membuka pintu.

"tunggu seben. ."

Oik langsung terpaku begitu melihat siapa yang mengetuk pintunya. Laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa hari ini mengganggu pikiran Oik kini berdiri di hadapannya.

"Hai" sapa laki-laki itu sementara Oik masih terdiam tak bergerak.

Sepertinya kesadaran Oik hilang ketika menyadari laki-laki yang biasa dilihat dari jauh kini berada begitu dekat dengannya.

"apa yang kau lakukan ? Jika ada tamu suruh dia masuk" teriak Alvin dari dalam rumah dan berhasil mengembalikan kesadaran Oik.

"maaf" ucap Oik kemudian mempersilahkan laki-lak itu masuk.

Laki-laki itu kemudian masuk sambil Tersenyum. Oik hampir tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya tapi Oik buru-buru
menguasai perasaannya.

"hampir saja" ujar Oik sambil menghembuskan nafasnya.


***


Benar-benar di luar dugaan. Oik akhirnya mengetahui kenapa laki-laki itu bisa datang tiba- tiba ke rumahnya. Laki-laki yang bernama Cakka atau Cakka Nuraga itu ternyata sudah lama mengenal Alvin. Bahkan mereka sering bertemu dan mengobrol. Tapi kenapa ketika di pusat kota mereka seperti tidak saling mengenal ? Oik terus bertanya dalam hati kenapa kakaknya tidak memberi tahunya bahwa mereka saling mengenal.

Cakka dan Alvin terlihat asik mengobrol sambil makan, sementara Oik sama sekali tidak di hiraukan. Sebenarnya Oik belum benar-benar percaya jika Cakka, laki-laki yang sudah mengganggu pikirannya kini berada di depannya bahkan makan bersamanya. Sungguh kebetulan yang menyenangkan.

Tanpa sadar Oik tersenyum sendiri.

"kau tidak apa-apa ?" tanya Cakka begitu melihat Oik tersenyum sendiri.

"ng…tidak"  jawab Oik singkat dan langsung melanjutkan makan.

"oia, bukankah kita belum berkenalan ? Aku Cakka" Cakka mengulurkan tangannya dan Oik agak ragu-ragu membalas uluran tangan itu,

"Oik"

hari ini sepertinya akan jadi hari yang menyenangkan untuk Oik.


***

"kau tunggu disini, aku akan belikan makanan" ucap Alvin kemudian langsung meninggalkan Oik.

Kedatangan Cakka tadi pagi tidak cukup membawa perubahan. Siang ini Oik masih seperti biasa bekerja menjadi boneka badut dan menghibur orang-orang. Sekarang Oik sedang beristirahat di tempat favoritnya di bawah pohon. Tempat paling aman jika Oik ingin memandangi Cakka. Tapi hari ini tidak seperti biasanya. Di sudut jalan itu Cakka tidak terlihat. Lukisan yang biasa di pajang di sisi jalan pun tidak ada.

"kemana dia?" tanya Oik heran.

Padahal Oik kira setelah Cakka datang ke rumah tadi pagi, Cakka akan menemuinya dan mengobrol dengannya.

"mau minum ?"

seorang laki-laki yang ternyata Cakka berhasil mengagetkan Oik yang sedang melamun. Sedikit gugup ketika Cakka menawarkan minuman tapi akhirnya Oik menerimanya.

“terima kasih"

Cakka kemudian duduk di samping Oik dan membuka minumannya. Oik masih terdiam menatap Cakka. Sepertinya Oik masih belum sepenuhnya percaya Cakka kini di sampingnya.

"kau sudah selesai ?" tanya Cakka tiba-tiba.

"apa ?" Oik balik bertanya.

"jika kau sudah selesai, aku ingin mengajakmu jalan-jalan"

Oik hampir tersedak ketika mendengar ucapan Cakka.

"Tak apa-apa, kan?" tanya Cakka cemas sementara Oik hanya menggeleng.

Suasana hening sejenak.

"bagaimana ?"

Oik terdiam sesaat. Bingung dan takut jika Oik pergi dengan Cakka , Alvin akan memarahinya.

"tenang saja aku sudah meminta izin pada kakakmu dan kakakmu mengizinkannya" ujar  Cakka seperti mengerti apa yang dipikirkan Oik. Akhirnya Oik pun menerima ajakan Cakka.


***


Cuaca sangat panas tapi Oik dan Cakka masih tetap berjalan menyusuri kota dengan riang gembira. Tak henti-hentinya Oik tersenyum senang karena bisa berjalan-jalan dengan Cakka, laki-laki pujaannya. Cakka pun terlihat perhatian pada Oik. Cakka terus menggenggam tangan Oik dan berusaha melindunginya.

Cakka dan Oik terus berjalan menyusuri kota sambil sesekali melihat-lihat para pedagang dan dagangannya yang di jajakkan di pinggir jalan. Oik terlihat senang bisa pergi bersama Cakka. Lebih bahagia lagi karena Cakka begitu baik padanya. Seakan semuanya Seperti mimpi. Dulu Oik hanya bisa memandangi Cakka dari jauh kini berada di sampingnya, pergi dengannya. Seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

"kau senang ?" tanya Cakka sambil memberikan minuman pada Oik.

Tidak terasa Cakka dan Oik berjalan cukup lama. Sekarang sudah hampir malam, mereka berdua kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Oik.

"tentu saja, ini hari yang benar-benar menyenangkan" jawab Oik sambil menerima minuman dari Cakka.

"aku senang sekali bisa berjalan denganmu" lanjut Oik sambil tersenyum malu.

"aku pun begitu" balas Cakka sambil tersenyum juga.

Sesaat Oik terpaku melihat senyuman Cakka. Oik memang paling menyukai Cakka ketika tersenyum.

"apakah kau pikir ini adalan kencan ?" Tanya Cakka dari nada bicaranya, ia keliatan santai

Oik langsung membelalakan matanya terkejut. Kenapa Cakka bisa mengatakan itu ?

"maksudmu ?"

"bukankah seorang laki-laki dan perempuan yang berjalan berdua itu namanya kencan ?"

"tapi itu kan hanya untuk orang yang sedang berpacaran"

"apa kita tidak sedang berpacaran ?"
lagi-lagi pertanyaan Cakka berhasil membuat Oik terdiam dan salah tingkah. Oik tidak menyangka Cakka adalah orang yang tidak suka berbasa basi.

"tentu saja tidak" jawab Oik sambil menundukkan kepalanya.

Oik tidak berani menatap Cakka padahal Oik sangat berharap Cakka mengatakan bahwa dia menyukainya dan mengajaknya berpacaran.

"baiklah. .kita sudah sampai" ujar Cakka.

Oik  mendongakkan kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Sudah di depan rumahnya.

"masuklah" Cakka menyuruh Oik dan Oik langsung menuruti perintah Cakka, setelah sebelumnya Oik mengucapkan terima kasih.

Oik sempat melihat kepergian Cakka dari kamarnya. Oik menghembuskan nafasnya

"dia tidak mengatakan apa-apa"


***


Dan semenjak itu Oik dan Cakka menjadi dekat. Setiap beristirahat Oik sering menemui Cakka dan menemani Cakka melukis. Cakka juga setiap hari sering mengantarkan Oik pulang. Kini mereka menjadi teman dekat.
Hari ini Oik tidak bekerja menjadi badut. Sejak pagi Oik terlihat sibuk di dapur. Oik  berencana untuk memberikan makanan kepada Cakka.

Ketika waktu makan siang Oik bergegas menuju pusat kota untuk menemui Cakka. Begitu sampai diseberang jalan, ketika Oik ingin melambaikan tangannya, seorang gadis tiba-tiba datang menemui Cakka. Gadis  itu langsung memeluk Cakka dan…. Cakka pun membalas pelukan itu. Oik begitu kaget melihat kejadian itu. Hatinya tiba-tiba merasa sakit dan sedetik kemudian pipi Oik sudah berurai (?) air mata. Oik akhirnya mengurungkan niat untuk menemui Cakka dan kembali ke rumah.

Ketika sampai di rumah Oik langsung masuk ke kamarnya. Alvin yang juga baru pulang kaget melihat sikap Oik. Alvin  tampak khawatir dan berulang kali mengetuk pintu kamar Oik, tapi Oik tidak menjawab. Di dalam kamar Oik menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit melihat kejadian tadi dan menyesal kenapa ia tidak pernah berpikir kemungkinan Cakka sudah mempunyai kekasih.

Sampai malam Oik terus mengurung diri di kamar. Alvin  sebagai kakaknya benar-benar khawatir dengan sikap adiknya itu yang tidak mau berbicara apapun padanya.

"apa ini semua karena Cakka?" Alvin bertanya dalam hati dan akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Cakka apa yang terjadi.


***


"aku langsung datang kesini begitu mendengar keadaan Oik" ucap Cakka ketika sampai di rumah Oik dan bertemu Alvin.

Alvin langsung memberitahu Cakka tentang sikap Oik yang sejak tadi mengurung diri di kamar.

"dia bilang ingin menemuimu tapi ketika kembali malah seperti ini" ujar Alvin sementara Cakka hanya mendengarkan sembari mengingat apa yang terjadi tadi pagi sampai siang.

"aku belum bertemu dengan Oik hari ini" jelas Cakka.

Suasana menjadi hening. Cakka dan Alvin mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.

"aku rasa Oik salah paham" ungkap Cakka tiba-tiba.

Alvin terlihat bingung kemudian Cakka menjelaskan tentang kejadian ketika Cakka kedatangan seorang gadis tadi siang.
Cakka berfikir Oik salah paham ketika melihat gadis itu.

"Oik pasti mengira gadis itu adalah kekasihku" ucap Cakka.

"dia hanya temanku, aku harus menjelaskan pada Oik" lanjut Cakka.

Alvin  terdiam sejenak.

"Oik pasti tidak ingin menemuimu sekarang, aku punya ide"




***


Di kamarnya, Oik mulai bangun dari tidurnya. Setelah lelah menangis Oik tertidur cukup lama. Oik mulai keluar kamar untuk mengambil minum. Ketika sampai di ruang tamu, suasana terlihat sepi.

"sepertinya Kak Alvin belum pulang" ujar Oik ketika tiba-tiba pintu rumah terbuka dan masuk seseorang berpakaian badut. Mungkin itu kakaknya.

"kau sudah pulang Kak ?" tanya Oik sambil menghampiri kakaknya sementara Alvin mulai membuka pakaian badutnya kecuali kepala badutnya dan duduk di kursi di ikuti Oik.

"Kak. .aku tidak ingin menemui Cakka lagi" ucap Oik dengan nada sedih.

"aku tadi melihatnya bersama seorang gadis dan aku rasa Cakka menyukainya" lanjut Oik sementara Alvin masih diam mendengarkan.

"apa yang harus aku lakukan Kak ? Aku menyukainya tapi aku tidak tahu apa dia juga menyukaiku ? Apa aku harus melupakannya ?"

Oik terus mencurahkan perasaannya sampai merasa kesal karena Alvin sama sekali tidak menanggapinya. Alvin masih diam dan tidak berniat melepas kepala badutnya.

"Kak kau tidak mendengarku?" tanya Oik kesal dan akhirnya membuka kepala boneka yang di pakai Alvin.

Betapa kagetnya Oik ketika mengetahui orang di balik kepala badut itu. Bukan Alvin, kakaknya! tapi Cakka. Oik langsung lemas begitu menyadari orang yang sejak tadi mendengarkan curahan hatinya adalah Cakka.

"maafkan aku,kakakmu merasa kau tidak ingin menemuiku jadi aku melakukan ini agar bisa bertemu denganmu" ujar Cakka sambil menatap Oik.

Oik masih terlihat syok dengan kejadian ini. Cakka akhirnya mengetahui perasaan Oik juga.

"aku cukup terkejut mendengar pernyataanmu tadi" ujar Cakka lembut

"maafkan aku" balas Oik lirih

"kenapa kau malah meminta maaf"

"karena aku menyukaimu"

Cakka terdiam sesaat.

"ikut denganku" Cakka langsung menarik tangan Oik, dan mengajak Oik pergi.


***

Cakka akhirnya menghentikan mobilnya di suatu rumah yang tidak terlalu besar. Cakka  mengajak Oik masuk ke rumah itu.

"untuk apa kau mengajakku kesini ?" tanya Oik bingung.

Cakka kemudian mengajak Oik ke sebuah kamar yang gelap. Sesaat pikiran Oik mulai di landa ketakutan. Tiba-tiba ruangan menjadi terang dan betapa terkejutnya Oik  ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Lukisan dirinya terpajang cukup banyak membuat Oik hanya bisa membelalakan matanya. Benar-benar tidak menyangka. Sejak kapan Cakka melukis dirinya ?

"aku ingin menunjukkan ini" ujar Cakka yang menunjukan senyuman manisnya

"aku menyukaimu dan ini buktinya"

Oik  langsung menghambur ke pelukan Cakka.

"maaf karena aku telat mengatakannya"

Oik melepaskan pelukannya dan sedetik kemudian bibir mereka menyatu seperti cinta mereka.




THE END
Baca Selanjutnya... »»